Mati dan hidup adalah ciptaan Allah ﷻ, adanya mati karena ada hidup, dua kata tersebut merupakan pasangan. Tidak mungkin ada kematian makhluk, jika tidak hidup sebelumnya.

Amalan Ringan Terbaik Untuk Bekal Hidup Setelah Mati
Foto oleh Nitin Garg di Unsplash

Hidup itu bagai berjalan pada jalan lurus, bukan jalan melingkar bulat. Jalan melingkar bulat tidak berujung, sementara jalan lurus itu berujung. Kemudian apa ujung dari kehidupan? Ujungnya adalah kematian.

Untuk apa Allah ﷻ menciptakan kematian dan kehidupan? Allah ﷻ berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Mulk.

اۨلَّذِىۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَالۡحَيٰوةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡغَفُوۡرُۙ‏

“(Dialah Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun”. — Q.S. Al Mulk: 2

Berdasarkan ayat tersebut, sesungguhnya hakekat mati dan hidup adalah ujian. Kemudian hasil dari ujian itu, Allah ﷻ akan memberikan penilaian tentang siapa yang perbuatannya memiliki kualitas terbaik.

Apa saja perbuatan terbaik itu? Tentu, ada banyak ragam kriteria dan riwayat tentang perbuatan dengan kualitas paling baik dalam Islam. Ada yang disebut sebagai manusia terbaik, jika kita menjadi orang yang paling bermanfaat. Dalam konteks lain disebutkan bahwa kualifikasi terbaik itu adalah yang paling taqwa. Dan lain-lain.

Namun ada satu kategori perbuatan yang disebut oleh Rasulullah ﷺ termasuk dalam perbuatan paling baik dalam Islam dan perbuatan itu nampaknya mampu kita jalankan. Jika kebaikan sederhana ini kita jalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, mudah-mudahan kita bisa masuk dalam kelompok yang mencapai hasil penilaian yang baik dari sisi Allah ﷻ di saat kematian datang menjemput.

Perbuatan dengan kualitas terbaik dan mampu kita jalankan itu, mengacu pada sabda Rasulullah berikut ini:

“Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra: Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Perbuatan apakah yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” — H.R. Muslim

Dari apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad ﷺ terdapat 2 kategori perbuatan terbaik yakni:

Pertama, Memberikan makan kepada orang lain. Hal seperti ini telah dicontohkan Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau sering bersedekah makanan dengan tidak melihat latar belakang orangnya, namun lebih tertuju kepada orang yang membutuhkan.

Baca juga:  Departemen Halal di Bawah Kementerian Perdagangan Kamboja Untuk Menarik Wisatawan Muslim

Seperti dalam satu kisah Rasulullah ﷺ rutin memberikan makan dengan menyuapi seorang Yahudi yang buta, miskin lagi tua renta. Padahal Rasulullah tahu dengan pasti, Yahudi tua tersebut sangat membenci diri baginda Nabi ﷺ.

Namun dengan hati mulianya, Rasulullah ﷺ mampu melihat situasi ini dengan sangat bijak. Beliau melihat dua hal dalam kasus ini. Pertama, ia melihat sosok manusia yang rapuh, renta, buta, dan lapar yang secara objektif membutuhkan bantuan.

Kedua, Rasulullah ﷺ juga melihat dan mendengar, bagaimana pria tua yang renta dan buta ini kerap mencaci maki beliau. Bagaimana tidak tahu, karena pria tua ini kerap menghina Rasulullah justru saat beliau menyuapinya.

Lucunya lagi, pria tua ini bahkan kerap berpesan kepada orang yang menyuapinya (Rasulullah), agar jangan dekat-dekat dengan Muhammad dan jangan percaya kepadanya. “Muhammad adalah pembohong” demikian celoteh yang kerap diungkap pria tua itu kepada Rasulullah ﷺ yang sedang menyuapinya.

Sungguh akhlak yang agung. Dengan ke-arifannya yang dalam, Rasulullah ﷺ tahu dan bagaimana bersikap atas dua fakta itu dengan benar. Fakta pertama, pria renta ini lapar dan butuh pertolongan. Maka Rasulullah ﷺ menolongnya. Fakta kedua, pria renta ini tak henti menghina beliau, karena tak kenal dan tidak tahu dengan sebenarnya tentang kepribadian beliau. Beliau abaikan hinaan dari orang yang tidak tahu. Dia menghina karena tidak tahu.

Maka dengan segala kelembutan akhlak beliau yang agung, Yahudi renta dan papa itu terus disuapi oleh Rasulullah. Kejadian ini berlangsung berulang dalam waktu yang lama. Sehingga Yahudi buta itu sangat paham gerak dan kelembutan Rasulullah ﷺ.

Hikmah luar biasa ini baru terungkap setelah Rasulullah Muhammad ﷺ wafat. Kebiasaan Rasulullah menyuapi Yahudi renta itu diteruskan oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq dalam rangka ittiba’ Rasulullah ﷺ.

Namun cara Rasulullah dalam menyuapi Yahudi renta itu tak bisa diikuti oleh sahabat Abu Bakar. Sehingga dalam pertemuan pertama saja, Yahudi tua itu sadar bahwa yang menyuapinya kali ini adalah orang yang berbeda.

Baca juga:  Presiden Joko Widodo Resmikan Selesainya Renovasi Besar Masjid Istiqlal

Sehingga ia mengungkapkan keraguannya dengan berujar “Anda rasanya bukan orang yang biasa menyuapi saya?” Sahabat Abu Bakar Shiddiq yang jujur itupun membenarkan, bahwa dirinya memang bukan orang yang biasa menyuapinya.

Yahudi tua itupun lantas bertanya lagi: “lalu siapa sesungguhnya yang setiap hari menyuapi makanan kepada saya sebelum ini? dan sekarang dia kemana?”

Abu Bakar Shiddiq menjawab: “Ketahuilah, beliau adalah Rasulullah Muhammad ﷺ dan sekarang sudah wafat”.

Mendengar jawaban itu langsung orang Yahudi itu menangis tersedu sedu, menyesal ternyata selama ini dia salah kira, akhirnya dengan penuh keikhlasan dia menyatakan kepada sahabat Abu Bakar Shiddiq untuk memeluk ajaran Islam.

Itulah salah satu perbuatan terbaik Rasulullah Muhammad ﷺ dari sekian banyak perbuatan Rasulullah yang terbaik. Telaten memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Tanpa melihat latar belakangnya.

Kini banyak orang Islam berlomba-lomba memberikan makan kepada jama’ah sholat Jum’at di banyak Masjid, moga-moga ini dalam rangka melaksanakan sunnah dan anjuran Rasulullah ﷺ untuk melakukan amalan yang kualifikasinya disebut oleh Rasulullah sebagai perbuatan yang paling baik dalam Islam.

Kedua, mengucapkan salam kepada sesama muslim yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Kita prihatin, hari ini banyak muslim yang masih lebih memilih mengucapkan ucapan “Selamat pagi” daripada mengucapkan “Assalamualaikum.”

Padahal menyebarkan salam, adalah sesuatu yang mudah dan tidak perlu banyak tenaga untuk mengucapkannya apalagi biaya. Tetapi dibalik ucapan sederhana itu ada hikmah persaudaraan yang sangat dalam. Ucapan salam sangat dianjurkan oleh Rasulullah, bahkan menurut hadist di atas termasuk sebagai amalan yang paling baik. Dalam ucapan salam terkandung doa untuk keselamatan dan rahmat Allah ﷻ.

Ada banyak bekal yang mesti kita persiapkan untuk menuju ujung jalan lurus kehidupan kita, yakni kematian. Memberi makan dan menyebarkan salam adalah salah satu amalan yang ringan untuk kita jalankan tetapi mudah-mudahan menjadi bekal yang tidak ringan bagi kehidupan kita setelah mati nanti.

Wallahu alam