Karena peminatnya yang begitu banyak, sepak bola dengan mudah menjelma menjadi sebuah industri besar yang memiliki aspek komersial yang luas.

Bola Kehidupanmu Akan Bersarang Kemana
Foto oleh Ayelt van Veen di Unsplash

Tak ada kesangsian lagi, sepak bola adalah permainan yang paling banyak penggemarnya di seluruh dunia. Ia bukan bukan lagi sekedar olah raga, sepak bola bahkan telah menjadi tontonan yang paling menghibur. Karena peminatnya yang begitu banyak, sepak bola dengan mudah menjelma menjadi sebuah industri besar yang memiliki aspek komersial yang luas.

Bagi para atlit bola, menjadi pesepak bola profesional yang bisa merumput di klub-klub elit dunia adalah mimpi besar. Bukan sekedar nama dan fasilitas, bermain di klub elit dunia sama dengan bekerja dengan pendapatan se-langit yang bahkan para ilmuwan dan profesional bidang lain yang harus kuliah bertahun-tahun tak pernah bisa memimpikannya.

Bayangkan saja, pesepak bola sekelas Mohammed Salah dikabarkan menerima gaji sebesar $37 juta dalam satu tahun. Angka ini jika di rupiahkan nilainya setara Rp 518 miliar! Jika dihitung dalam pendapatan per bulan, Mohammed Salah berpenghasilan 43 miliar lebih, itu artinya dalam satu hari Mohammed salah akan menerima bayaran 1 miliar lebih.

Fantastis bukan? Padahal Mohammed Salah belum termasuk kategori sebagai pemain dengan pendapatan terbesar di dunia. Di atas levelnya masih ada Mbappe, Pogba, Neymar, dan tentu saja Cristiano Ronaldo dan Messi yang gajinya pasti jauh di atas Mohammed Salah, konon pendapatan keduanya dalam satu tahun lebih dari $115 juta.

Ya, bola telah menjadi industri yang mampu memutar uang miliaran dollar Amerika dalam setiap musimnya. Bayangkan saja, untuk turnamen Liga Champion Eropa, UEFA sebagai penyelenggara event harus mengeluarkan uang senilai 38 triliun lebih untuk sekedar hadiah bagi para klub yang terlibat dalam event tersebut. Berapa gaji official, berapa biaya iklan, berapa nilai hak siar? Tentu akan sangat besar sekali.

Intinya, dunia sepak bola telah sama kita pahami sebagai dunia yang bergelimang dengan uang. Sebagai pagelaran yang disiarkan ke seluruh dunia, event sepak bola sesungguhnya pagelaran dan tontonan yang amat mahal. Didukung investasi dari pengusaha di seluruh dunia yang nilainya sangat besar. Bisnis yang dirmalkan akan terus prospektif hingga beberapa dekade ke depan.

Nasib Penonton Sepak Bola

Yang membuat bisnis sepak bola begitu moncer sesungguhnya hanya satu saja, yakni adanya penggemar sepak bola sebagai sebuah tontonan. Penggemar bola ini belum tentu kalangan yang hobi main bola. Ada banyak penonton bola yang bahkan tak pernah bisa menendang bola dengan benar. Tapi para penonton seperti ini yang justru kerap menjadi penggemar atau fans bola yang sangat fanatik.

Baca juga:  Departemen Halal di Bawah Kementerian Perdagangan Kamboja Untuk Menarik Wisatawan Muslim

Para penonton fanatik terkotak dalam berbagai pilihan tim favorit mereka masing-masing. Sehingga dalam mengelola bisnis sepak bola, para pemilik klub bahkan harus dengan ekstra hati-hati memikirkan keberadaan para fans, agar makin loyal.

Fans harus digarap sedemikian rupa karena disadari, fans adalah bagian paling penting dari pengembangan bisnis sepak bola. Bayangkan jika sepak bola tanpa penonton, sepak bola hanya akan sekedar jadi olah raga dan hobi yang jauh dari gelimang uang dan bisnis. Tak pelak, penonton atau penggemar bola adalah elemen terpenting dibalik gemerlapnya bisnis di sekitar sepak bola. Merekalah yang urunan dengan membeli tiket langsung maupun hak siar. Karena penonton ini pula, iklan dari berbagai produk nempel di setiap sudut lapangan bola bahkan dalam tayangan tv yang menyiarkan acara langsung sebuah pertandingan sepak bola.

Lalu apa yang di dapat oleh para penggemar fanatik ini? Jika atlit bola jelas mendapatkan upah dari ketrampilannya mengolah si kulit bundar. Para pemilik klub diuntungkan dengan investasi dan pendapatan yang luar biasa besar dari penjualan tiket, hak siar, jual beli pemain bola, bahkan dari penjualan jersey para pemain top, dan iklan yang dibintangi para pemain tersebut.

Lalu apa yang di dapat oleh para penggemar fanatik ini? Pertanyaan ini penting kita ajukan, karena mungkin kita, tetangga kita, atau saudara kita adalah salah satu dari para penggemar fanatik itu. Apa yang telah kita dapat? Mari kita lihat dengan seksama.

Secara materi, sudah pasti para penggemar bola tidak kebagian apapun dari setiap pertandingan yang mereka nikmati. Bahkan harus keluar uang untuk beli tiket atau menonton siaran secara langsung. Penonton tidak dapat hadiah apapun. Penonton bahkan harus merogoh kembali kantungnya untuk membeli jersey dan pernik lain terkait pemain idola yang akan dimilikinya.

Secara emosi para penonton akan mendapatkan rasa bangga dan perasaan bahagia jika klub pujaannya memenangi pertandingan. Namun sebaliknya, jika klub pujaannya kalah, para penonton akan terlibat dalam kesedihan, amarah, dan rasa tidak bahagia. Jadi, kegembiraan psikologis-emosional yang didapatkan oleh para penonton sesungguhnya masih sangat relatif.

Penonton, dengan menjadi penggemar atau fans sebuah klub, akan memiliki sedikit keuntungan dengan rasa bangga “seolah-olah” menjadi bagian dari klub itu secara langsung. Apa yang dibanggakan dalam konteks ini sesungguhnya amat absurd, konyolnya lagi ada fans bola yang siap mati untuk membela kehormatan klub yang ia dukung, jika fans dari klub lian menghina klub kebanggaannya itu.

Baca juga:  Pentingnya Mengembangkan Kemandirian Desa Tetap Menjadi Prioritas

Jelaslah, sesungguhnya para fans sepak bola tidak benar-benar mendapatkan manfaat yang riil dari kegemarannya nonton bola dan memuja klub sepak bola. Semua kebanggaan dan kebahagiaan yang ia rasakan sesungguhnya semu belaka. Kebanggaan semu itu bahkan kerap menjadi kekonyolan yang sia-sia. Berapa banyak penggemar bola yang mati tanpa faedah akibat tawuran sesama pendukung klub sepak bola.

Tak Jauh Dari Nasib Bola

Meski kerap memimpikan diri layaknya seorang pemain bola top, dengan meniru habis semua penampilan hingga gaya rambutnya. Para penonton bola yang fanatik kerap tak sadar bahwa nasib mereka tak jauh berbeda dengan bola yang ditendang kian kemari. Diperebutkan, membentur ke sana ke mari, melambung dalam ketidak-jelasan.

Ya seperti bola. Bulat penuh tapi kosong, hanya berisi angin. Layaknya kepala kita yang penuh angan-angan, melayang dalam gelembung khayal. Bola bahkan tidak tahu, ke gawang mana ia harus bersarang. Seperti kita yang tak memiliki orientasi ke arah gawang kehidupan mana, bola nasib ini harus kita sarangkan.

Sampai akhirnya, bola itu kempis atau pecah dan teronggok dalam bak sampah, tak lagi digunakan. Seperti usia kita yang kempis menuju kerentaan dan habis tanpa guna untuk sekedar memelototi pertandingan sepak bola tanpa ada apapun yang kita peroleh atau dapatkan.

Bola bahkan seperti dunia. Tak sekedar pada bulatnya. Tapi pada godaannya, kesenangannya, yang penuh tipu daya. Sehingga kita semua abai pada nikmat waktu dan tujuan essensial dari keberadaan kita di di dalamnya. Ya, bola adalah dunia yang penuh pesona dan tipu daya bagi para pengagumnya. Sehingga kesehatan dan waktu yang dianugerahkan tak termanfaatkan secara bijaksana.

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” — HR. Bukhari no. 6412

Bola adalah salah satu bentuk tipuan itu. Maka gemarilah bola sekedarnya saja. Mari kita gunakan waktu dan kesehatan sebaik mungkin agar bola nasib kita terarah menuju sarang kehidupan yang sesungguhnya.

Jangan sampai pula sebagai muslim, bahkan kita harus bercerai berai karena urusan dukung mendukung klub bola. Sungguh naif dan sia-sia. Mari belajar dari nasib bola, yang terus terombang ambing dalam ketidak pastian.

Pastikan orientasi hidup dengan berpegang pada tali agama Allah. Di sana ada petunjuk tentang gawang kehidupan yang hakiki dan layak kita tuju sebagai gol akhir dan terindah dari kehidupan kita yang hanya sekali ini.