Lalu bagaimana memberikan terapi pada mereka yang limbung secara sosial-ekonomi akibat pandemi? Sudah barang tentu tablet multi-vitamin tidak akan menyembuhkan mereka dari rasa lelah, putus harapan dan depresi.

Covid-19, Depresi, dan Vaksin Spiritual
Ilustrasi, Al Basir – Covid-19, Depresi, dan Vaksin Spiritual

Lelah menjalani hidup tapi takut mati. Akhirnya tetap memilih untuk terus hidup, meski derita kehidupan terasa berat setengah mati. Pandemi Covid-19 memang telah sedikit mereda. Namun waktu dua tahun dalam kungkungan pandemi global membuat siklus hidup tidak serta merta menjadi normal kembali. Pandemi memang tak sekedar melahirkan problem kesehatan. Ada masalah lain yang hadir menjadi parasit dan menorehkan luka pada kehidupan.

Penyintas virus Covid-19 rata-rata butuh satu bulan isolasi untuk penyembuhan. Orang yang sembuh dari terinfeksi virus corona disinyalir masih akan memiliki masalah kesehatan hingga beberapa bulan ke depan. Sudah sembuh dan tes antigen menunjukkan hasil negatif, tetapi badan masih terasa lelah dan lemah.

Lalu bagaimana mereka yang mengalami “demam” secara sosial-ekonomi akibat terkena imbas pandemi Covid-19? Luka sosial-ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi bisa berdampak hingga bertahun tahun lagi. Kapan kira-kira sakit sosial-ekonominya sembuh dan kembali normal? Tentu jawabannya tidak tunggal. Tergantung siapa yang terdampak.

Pastinya, akan butuh waktu yang lebih lama bagi banyak pihak untuk kembali bangkit dari keterpurukan sosial-ekonomi. Waktu yang jauh lebih panjang ketimbang proses menjadi sehat kembali secara fisik yang dialami oleh para penyintas virus Covid-19.

Jika para penyintas Covid-19 masih kerap lelah, badan terasa tidak bugar beberapa minggu setelah dinyatakan bebas dari Covid-19, korban keterpurukan sosial-ekonomi pun mengalami gejala yang sama. Bahkan dalam waktu yang lebih lama. Kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki modal untuk usaha yang dibenturkan dengan kebutuhan sehari-hari yang tak kenal kompromi, kerap menghadirkan rasa lelah untuk menjalani kehidupan.

Seperti terjerembab dalam kubangan yang dalam. Lumpur yang liat dan licin, dinding kubangan yang terasa tinggi, membuat mereka yang terdampak secara sosial-ekonomi mengalami kelelahan yang akut. Syahdan, untuk segedar menyalakan harapan pun rasa lelah itu begitu kuat menggelayuti angan.

Apalagi bagi mereka yang tidak bisa melihat cahaya langit di atas kubangan, kelelahan itu bahkan bercampur kengerian luar biasa. Keletihan yang sangat dan ketakutan yang memerangkap, membuat kematian tak lagi menjadi horor dan menakutkan. Banyak yang justru berpaling dan menjadikan kematian sebagai pilihan.

Baca juga:  Pandemi Dan Pendidikan Mengingat Kembali Gagasan Roem Topatimasang

Jepang, negara yang memang memiliki tradisi bunuh diri sebagai bagian dari kehormatan, dilaporkan mengalami kembali kenaikan angka bunuh diri selama pandemi. Jepang dalam sepuluh tahun terakhir dilaporkan telah mampu menekan angka bunuh diri. Namun pada tahun 2020 kemarin, angka bunuh diri di Jepang kembali meningkat tajam.

Pada tahun 2020 kepolisian setempat melaporkan adanya kasus bunuh diri sebanyak 20.919 kasus. Angka ini melonjak tajam jika dibandingkan pada tahun 2019, setidaknya ada kenaikan sebesar 750 kasus. Pihak berwenang di Jepang menengarai kenaikan ini sebagai dampak dari pandemi Covid-19. — antaranews.com

Hal senada juga dilaporkan terjadi di India. Angka bunuh diri sebagai imbas dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi telah meningkatkan angka bunuh diri. Di Indonesia belum ada studi dan riset khusus terkait masalah tersebut. Namun ada data menarik sebagaimana diungkapkan oleh Plt. Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu dalam acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia, di Indonesia terjadi peningkatan sebesar 6,5 persen angka gangguan mental dan depresi selama pandemi berlangsung.

Bangsa kita memang tidak memiliki budaya bunuh diri layaknya masyarakat Jepang. Namun, depresi dan gangguan jiwa yang akut, menurut para ahli dapat memicu munculnya tindakan bunuh diri.

Butuh Vitamin dan Vaksin Khusus

Untuk mempercepat penyembuhan, para penyintas Covid-19 memiliki banyak pilihan untuk segera memulihkan kondisi tubuh yang lemah dan letih. Dunia medis memiliki banyak tawaran berbagai vitamin, suplemen, bahkan herbal dan jamu. Para penyintas tinggal pilih. Jika konsisten dalam menggunkan obat, suplemen atau vitamin, dimungkinkan kualitas stamina tubuh akan meningkat, kesehatan berangsur normal kembali.

Bahkan untuk memastikan kekebalan dari serangan virus di masa yang akan datang, setelah satu bulan semenjak dinyatakan sembuh, para penyintas Covid-19 diperkenankan untuk ikut program vaksinasi. Vaksin yang ditawarkan pun beragam. Diberikan secara gratis.

Lalu bagaimana memberikan terapi pada mereka yang limbung secara sosial-ekonomi akibat pandemi? Sudah barang tentu tablet multi-vitamin tidak akan menyembuhkan mereka dari rasa lelah, putus harapan dan depresi. Sinovac, Pfizer, Sinopharm, Modena dan seabrek jenis vaksin lain yang ada di dunia tidak bakalan efektif untuk mengobati mereka dari rasa lelah yang akut dan kehilangan harapan.

Baca juga:  Departemen Halal di Bawah Kementerian Perdagangan Kamboja Untuk Menarik Wisatawan Muslim

Untuk menyembuhkan kelompok ini, boleh menggunakan analog dari dunia kesehatan dalam penanganan Covid-19.

Pertama, situasi ini butuh tenaga terapis layaknya para relawan dan tenaga medis dalam penanganan Covid-19. Lalu siapa terapis dan relawannya bagi mereka yang depresi? Mestinya para psikolog, ruhaniawan, dan motivator yang akan memberikan terapi kepada mereka.

Masalahnya, biaya mengundang psikolog dan motivator cukup mahal. Langkah yang paling efefktif adalah menggerakkan para ruhaniawan, ustadz dan dai untuk mengagendakan kerawanan sosial-ekonomi yang dialami oleh umat akibat pandemi dalam materi dan kegiatan dakwah mereka.

Para dai dan ustadz harus turun dari mimbar, menyapa mereka yang tidak beruntung ini dengan dakwah bil hal. Mengajak mereka untuk bisa melihat kembali cahaya dari kubangan hidup yang menjerat. Lalu secara berangsur menarik tangannya untuk keluar dari kubangan.

Kedua, layaknya relawan dan tenaga medis, para ustadz dan dai pun turun ke lapangan dengan membawa tablet vitamin spiritual dan suplemen ruhani. Artinya, para ustadz dan dai harus menyiapkan betul kebutuhan umat yang loyo akibat terpapar masalah sosial-ekonomi sebagai imbas pandemi Covid-19. Memahami secara tepat persoalan dan keinginan mereka adalah diantara cara agar paket vaksin spiritual yang disiapkan benar-benar efektif.

Ketiga, para ustadz dan dai juga harus mengemas paket gerak. Dalam penanganan Covid-19 ada anjuran untuk berjemur, jalan kaki dan senam ringan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh. Dalam terapi ruhani paket gerak ini juga harus diberikan. Misalnya dengan mengajak mereka untuk silaturrahmi, sholat berjamaah, hingga anjuran untuk melakukan amalan-amalan sunnah. Tujuannya, agar mereka kembali memiliki harapan dan yakin pada pertolongan Allah ﷻ. Secara berangsur kelelahan mental dan depresi yang mereka alami insya Allah akan segera sirna dengan melihat cahaya dan ke-Agungan Allah ﷻ.