Kopi adalah salah satu anugerah besar dalam bulirannya yang relatif kecil, dibanding kelapa dan durian misalnya.

Dalam Pahitnya Kopi ada Manisnya Pertemanan
Foto oleh Jess Eddy di Unsplash

Dahulu sekali, aku selalu meminta seduhan kopi kental manis pada istri. Sebuah cara sederhana yang menjadi ritual kami berdua untuk menikmati pagi. Menyesap kopi bikinan istri, selalu ada hangat yang diam-diam merayap sampai di kedalaman hati.

Menapaki usia kepala lima ini, aku mengubah permintaan kopiku. “Tetap kental, tapi cukup dengan sesendok penuh senyum manismu. Tanpa gula!”

Kita bangsa besar dengan banyak anugerah Allah. Kopi adalah salah satu anugerah besar dalam bulirannya yang relatif kecil, dibanding kelapa dan durian misalnya. Kita semua adalah masyarakat kopi. Sering orang lupa menyadari, bahwa persaudaraan kita sebagai bangsa banyak direkatkan oleh kopi.

Lihatlah kedai-kedai yang berjajar dari sabang sampai merauke. Hangat dalam perdebatan yang mungkin tak ilmiah namun tetap cerdas, kritis dan bernas, melingkari meja dalam keakraban yang khas diikat oleh gelas-gelas kopi.

Perayaan-perayaan hari besar keagaman selalu riuh dengan halaqah kopi. Mendengar tausiah sembari menyeruput kopi, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Dari langit turun keberkahan dari malaikat yang menaungi majelis ilmu dan dzikir, di lantai-lantai masjid berjajar gelas kopi hangat dan pekat halalan toyyiba. Sungguh berkah surau-surau di Nusantara.

Melihat sejarah, dari zaman dahulu kala, jiwa gotong-royong kita selalu hangat. Dalam lelah dan keringat, antara terik dan sepoi angin, aroma kopi dalam setiap sesapan selalu menghadirkan semangat dan harapan. Kopi hadir melengkapi, merapatkan, kemudian menjadi klangenan rakyat di negeri ini untuk ngopi bareng yang menjadi salah satu sendi persatuan.

Entahlah, mungkin kopi adalah saudara kembar inspirasi. Rapat dan diskusi tanpa kopi, seperti berkendara tanpa akselerasi. Lambat tanpa inspirasi. Negeri dan falsafah negara ini lahir dari inspirasi kopi yang menemani para founding fathers dalam alotnya rapat-rapat BPUPKI.

Kini, karena pola hidup. Banyak penggemar kopi yang mulai hati-hati dan menjaga jarak dengan kopi. “aku tidak ngopi lagi” begitu kata temenku, yang beberapa minggu lalu divonis dokter memiliki kadar gula darah yang tinggi dalam tubuhnya.

Baca juga:  Pintu Najd: Pintu Masuk Kaya Akan Karya Seni Sebagai Budaya dan Warisan Bangsa Arab

Sedih juga, jamaah ngopi hilang satu. Sedih yang dalam. Ini bahkan nyaris seperti subversi. Jika semua penggemar kopi menarik diri, sungguh ini adalah ancaman nyata dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menghilangkan tradisi ngopi, seperti mengurai perekat kultural umat dan bangsa. Tak ada lagi jajaran gelas kopi yang bersambung dari Sabang sampai Merauke. Tak ada lagi gelak tawa yang menjadi media takliful qulub yang diam-diam merapatkan shaff bangsa ini hingga pejal dan tak mudah pecah.

Sebegitu bengiskah kopi bagi kesehatan? Tak rela jamaah ngopiku bubar. Demi menjaga kesatuan dan persatuan, aku mencoba googling. menelisik cari kebenaran hakiki dari sumber-sumber terpercaya yang dimiliki oleh jaringan paman google.

Oo, ternyata ada salah paham yang serius. Yang berbahaya bagi tubuh ternyata gula, Gula Pasir! Juga ada salah yang lain, salah dalam menikmati kopi! Kopi bisa dinikmati dengan berbagai cara. Salah satu yang populer di negara kita adalah menikmati kopi dengan menambahkan gula. Berkembang pula kopi tambah gula, tambah creamer. Dan tambahan-tambahan lain. Namanya masih tetap sama, ngopi.

Aku ingat kakek. Sepanjang yang aku sadari, kakekku adalah penggemar kopi sejati. Kopi kakekku tidak aku sukai, pahit! Tanpa gula. Aku lebih suka menyeruput diam-diam kopi bapakku, kental dan manis. Aku tak paham apakah ayahnya kakekku ngopi tanpa gula juga?

Di kampung halamanku, beberapa orang dari generasi tua ternyata masih lazim menikmati kopi tanpa gula. Mereka tetap sehat dan rajin tandang ke tetangga untuk ngopi bareng hingga usia menapaki kepala tujuh.

Orang-orang di Amerika dan Eropa juga banyak yang menikmati kopi tanpa gula. Jenis kopi arabika yang kaya rasa justru paling nikmat disruput tanpa gula.

Baca juga:  Bola Kehidupanmu Akan Bersarang Kemana?

Poin-nya, aku Cuma ingin mengingatkan kepada para penggemar kopi yang masih susah membedakan antara ngopi dan menggula-kopi. Menikmati kopi tak harus pakai gula. Kalau anda memiliki masalah gula-darah yang tinggi, yang harus anda kurangi adalah mengonsumsi gula bukan berhenti ngopi.

Jadi tetaplah ngopi, karena menurut berbagai riset, ngopi itu sehat. Antara lain bermanfaat dalam menyehatkan liver atau hati, menyehatkan mata, mencegah alzheimer dan parkinson, meningkatkan kinerja otak dan tentu saja membahagiakan mental jika dikonsumsi bareng-bareng sambil tertawa lepas membincangkan polah keseharian kita masing-masing.

Tentu ngopi tanpa gula. Mungkin nggak enak bagi yang biasa ngopi dengan gula, tapi lama-lama akan asyik juga. Ini soal kebiasaan, tapi efek magic kopi yang membuat kita bisa ngomong tanpa beban, merespon dengan cepat masih akan terus terpelihara.

Maka bikinlah jamaah kopi tanpa gula, bangsa kita rentan terkena penyakit gula, karena pola makan dan minum yang banyak mengandung gula. Kurangi gula. Toh kita ini bangsa yang yang sudah ditakdirkan berpenampilan manis, tak perlu lagi diguyur gula. Sungguh dalam pahitnya kopi ada manisnya gairah kehidupan dan persaudaraan. Sementara dalam manisnya gula ada pahitnya kesehatan.

Yang lebih penting jamaah ngopi gak bubar. Ini tradisi penting yang mampu menjadi katalisator, agar berbagai kekecewaan hidup, ketidak-puasan kita terhadap kinerja pemerintah misalnya, bisa diubah dari yang bersifat menekan dan potensial bikin depresi, menjadi guyonan dan satir yang mengundang gelak-tawa. Masalah memang tidak selesai, namun tak pula jadi beban hati dan pikiran, seperti ampas kopi yang mengendap di dasar gelas tak mengganjal sesapan!

Maka tetaplah ngopi dan jauhilah gula.