Istilah Ikan Lele yang kemudian saya jadikan sebagai judul “Kepribadian Ikan Lele” sebenarnya terinspirasi dari istilah yang dilontarkan oleh Dr. Abdul Mu’ti, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam sebuah dialog di acara Serambi Islami yang disiarkan oleh TVRI.

Ungkapan lengkap beliau sebenarnya “Politikus Ikan Lele” bukan Kepribadian Ikan Lele. Dr. Abdul Mu’ti mengungkap bahwa istilah itu beliau kutip pula dari Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kita semua kenal Ikan Lele. Apa lagi Pecel Lele, hampir di sepanjang trotoar jalan-jalan utama di DKI Jakarta mudah dijumpai warung nasi yang menyediakan menu Pecel Lele. Banyaknya warung makan yang menyediakan menu ini, menggambarkan bahwa demand Pecel Lele cukup tinggi di DKI Jakarta alias banyak penggemarnya.

Tentu tidak masalah jika saya, anda, dan siapapun juga, gemar mengonsumsi menu Pecel Lele yang memang gurih dan nikmat itu. Apalagi jika sambal terasinya pas pula di lidah kita. Konon mertua lewat pun tak terlihat, saking nikmatnya.

Jadi permasalahan jika kita memilki kepribadian Ikan Lele. Dalam kajian di Serambi Islami tersebut, Dr. Abdul Mu’ti menerangkan makna istilah “Politisi Ikan Lele” beliau mengacu pada pola hidup Ikan Lele atau karakter dasar Ikan Lele yang menurutnya suka hidup di air keruh. Jika pun Ikan Lele tersebut diletakkan di air yang bening, maka dengan karakter dasarnya, Ikan Lele cenderung akan membikin keruh air bening itu.

Politisi Ikan Lele adalah politisi yang yang suka membikin kekeruhan di tengah masyarakat. Mereka akan eksis dengan ketrampilannya untuk membikin isu dan lontaran-lontaran pernyataan yang membikin gonjang-ganjing ketenangan masyarakat.

Baca juga:  Jamuan Gelap Yang Dikagumi Allah Azza Wa Jalla

Mencermati perilaku masyarakat hari ini, terutama di media sosial, ternyata karakter Ikan Lele, bukan monopoli para politisi. Banyak warga masyarakat biasa, pejabat, kalangan profesional, ibu rumah tangga, dan bahkan rohaniawan atau ustadz yang tak sadar kerap melontarkan pernyataan atau share berita tidak jelas yang potensial menimbulkan kegaaduhan di tengah masyarakat.

Beberapa kepribadian Ikan Lele itu muncul spontan. Karena pilihan politik yang berbeda, semua berita yang menyerang kubu yang dimusuhinya, akan ia share ke mana-mana. Tanpa cek kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga tanpa disadari, ia telah berperilaku layaknya Ikan Lele yang suka membuat kekeruhan.

Ada pula yang sekedar ingin dianggap selalu update. Apa yang ia terima berupa berita atau gosip yang belum jelas, buru-buru ia bagikan ke kelompok atau grup media sosial yang lainnya. Agar dianggap orang yang paling awal tahu tentang berbagai persoalan. Mereka tak sadar telah terhinggapi kepribadian Ikan Lele, meski sifatnya spontan saja.

Paling parah tentu saja mereka yang memang berkarakter Ikan Lele sejati. Mereka kadang-kadang tampil sebagai sosok yang terhormat di dalam masyarakat. Tak jarang di antara mereka adalah kelompok yang memiliki kekuasaan. Kekuasaan politik, ekonomi, intelektualitas dan kekuasaan atas media massa.

Mereka memang hidup dengan cara membuat kekeruhan di tengah masyarakat. Hoaks atau berita bohong mereka produksi besar-besaran untuk keuntungan jangka pendek bagi diri dan kelompoknya. Kepentingan itu bisa berupa kepentingan politik, ekonomi maupun kepentingan yang lainnya.

Baca juga:  Bank Islam Menunjuk TM ONE Untuk Memimpin Transformasi Digital

Bisnis mereka memang bisnis kekeruhan. Persis Ikan Lele yang bisa hidup makmur di tengah kekeruhan. Tanpa kekeruhan mereka jadi kurus, tak punya proyek, dan tidak eksis.

Kepribadian Ikan Lele ini bisa menghinggapi siapapun. Kita semua tidak imun dari tertular kepribadian Ikan Lele. Maka hati-hatilah jangan sampai keasyikan bermain di media sosial membuat kita berubah kepribadian. Menjadi pribadi Ikan Lele.

Naudzubillahi mindzalik.