Indonesia yang merupakan negara agraris pun tidak luput dari permasalahan membangun ketahanan pangan, kenyataannya masih banyak kasus kekurangan pangan yang terjadi di Indonesia.

Indonesia Yang Merupakan Negara Agraris
Foto oleh Nandhu Kumar di Unsplash

Kekhawatiran tentang krisis pangan mungkin sudah ada sejak beratus tahun lalu. Salah satu ungkapan kekhawatiran yang cukup terkenal adalah Doktrin Mathus yang dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus pada 1798. Beliau pernah memberi peringatan bahwa jumlah manusia cenderung meningkat secara deret ukur, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara deret hitung. Ketidaksesuaian laju pertumbuhan penduduk dan pertambahan persediaan pangan tersebut akan berujung pada krisis pangan yang mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Indonesia yang merupakan negara agraris pun tidak luput dari permasalahan membangun ketahanan pangan, kenyataannya masih banyak kasus kekurangan pangan yang terjadi di Indonesia. Beberapa hari lalu, misalnya, sebuah stasiun televisi swasta memberitakan tentang adanya kasus kelaparan di beberapa desa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mungkin ada yang memandang bahwa masalah kekurangan di NTT tidak lepas dari kondisi alam daerah tersebut yang tandus. Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, ancaman kekurangan pangan ternyata tidak hanya terjadi di daerah itu saja. Di Jawa yang note bene merupakan kawasan subur penghasil beragam tanaman pangan, khususnya padi—masih dijumpai beberapa kasus gizi buruk dan ancaman kekurangan pangan. Ada keluarga di Indramayu salah satu daerah lumbung padi di Indonesia pernah diberitakan hanya makan dengan nasi aking (nasi yang berasal dari nasi bekas yang dikeringkan) karena tidak mampu membeli beras.

Bagi orang luar Indonesia, bahkan orang Indonesia sendiri, munculnya kasus kekurangan pangan di Indonesia mungkin agak sedikit membingungkan. Dalam bayangan mereka, Indonesia dikaruniai kekayaan sumber bahan pangan yang luar biasa. Selain karena tanahnya yang subur, juga ditunjang dengan iklim tropis yang hanya mengenal dua musim; kemarau dan hujan. Indonesia juga memiliki wilayah laut yang luas dan kaya akan berbagai hasil tangkapan laut. Dengan kata lain, amat sulit membayangkan bagaimana bisa terjadi kekurangan gizi dan pangan di Indonesia. Ibarat ayam mati di lumbung padi. Bukan mati karena kelebihan makanan, tetapi mati karena kelaparan.

Baca juga:  Dalam Pahitnya Kopi ada Manisnya Pertemanan, Dalam Manisnya Gula Ada Getirnya Kesehatan

Permasalahan ketahanan pangan memang tidak semata-mata terkait dengan masalah penyediaan bahan pangan. Selain subsistem ketersediaan pangan, ketahanan pangan terkait juga dengan subsistem distribusi dan konsumsi. Pada subsistem ketersediaan pangan, kita memang pernah berhasil meraih prestasi swasembada beras pada tahun 1984 dan 2008. Namun, di waktu yang lain, kita juga pernah terpaksa harus mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Persoalan lain yang terkait dengan subsistem penyediaan pangan ini adalah rusak dan tidak terpeliharanya sarana irigasi yang telah dibangun dengan anggaran yang tidak kecil. Selain itu, masalah meningkatnya pengalihan fungsi (konversi) lahan pertanian menjadi lahan pemukiman atau industri, terutama di Jawa, juga menjadi persoalan yang harus segera ditangani dengan kebijakan dan leadership yang kuat.

Pada subsistem distribusi, persoalan klasik yang sering dimunculkan adalah menyangkut kondisi geografis Indonesia yang berupa wilayah kepulauan. Masih minimya kuantitas dan kualitas prasarana transportasi darat, laut, dan udara, turut menyulitkan proses distribusi bahan pangan. Terlebih lagi ketika cuaca sedang memburuk yang akhir-akhir ini kecenderungan terjadinya semakin meningkat akibat pemanasan global. Dampak yang kemudian diterima masyarakat adalah melambungnya harga pangan akibat distribusi yang tidak lancar.

Situasi sulit juga terdapat pada subsistem konsumsi, dimana ketergantungan sebagian besar masyarakat kita pada nasi (beras) masih sangat tinggi. Sulit sekali menghilangkan kesan di masyarakat kita: kalau belum makan nasi berarti belum makan. Bahkan, di kelompok masyarakat di beberapa wilayah tertentu yang dulunya mengandalkan sagu, jagung, atau ubi sebagai makanan pokoknya, saat inipun mulai “terjangkit” kebiasaan untuk harus makan nasi.

Baca juga:  Cita Rasa Singapura Bertambah Seiring Dengan Meningkatnya Masakan Cina Bersertifikat Halal

Berbagai persoalan tersebut bukannya tidak disadari. Hanya saja, sepertinya persoalan ketahanan pangan belum menjadi prioritas yang penting bagi pemerintah dan masyarakat. Berbagai kebijakan yang pernah diberlakukan seringkali hanya bergaung keras di awal saja, namun langsung melemah dan dilupakan begitu saja pada fase-fase berikutnya. Dalam hal ini, sebagai langkah awal, mungkin para pemimpin negeri ini perlu memberi contoh kepada masyarakat mengenai pentingnya penganekaragaman makanan, sebagaimana ketika mereka memberi contoh mengenakan pakaian batik. Dengan begitu, kita semua akan memiliki semangat dan langkah yang sama dalam ikut meningkatkan ketahanan pangan kita.