Islamophobia dan keinginan beberapa pihak untuk mengerdilkan pertumbuhan Islam di Eropa tak akan pernah berhasil membendung arus deras Islamisasi di Eropa. Islam akan menjadi agama yang angka pertumbuhan pemeluknya menjadi yang paling tinggi di masa depan di kawasan itu.

Rekayasa politik dan militer berhasil membuat negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah hancur dalam jebakan konflik dan perang saudara yang berkepanjangan. Lihatlah bagaimana Libya, Irak, Yaman dan terakhir konflik di Suriah kesemuanya melibatkan kebijakan-kebijakan para pemimpin politik dan militer di Amerika dan Eropa.

Negara-negara Islam itu memang hancur berdarah-darah. Negara-negara di kawasan Timur Tengah yang nota benenya adalah negara-negara Islam juga berhasil dipecah belah. Rakyat yang umumnya pemeluk Islam sudah pasti yang paling merasakan nestapa dari kehancuran dan konflik di negera-negara Islam tersebut.

Kita tidak tahu dan tak ingin berprsangka, kearah mana sesungguhnya penghancuran negera-negara muslim itu akan bermuara? Apakah ini dalam rangka menghancurkan Islam secara sistematis? Wallahu alam.

Tapi jika menghancurkan dan mengadu domba negara-negara muslim dalam rangka memberangus pertumbuhan Islam sebagai dinullah, maka sungguh upaya itu hanya akan sia-sia. Karena sesungguhnya eksistensi dan kejayaan agama ini telah jauh hari di jamin oleh Allah, apa pun makar yang akan digunakan untuk menghancurkannya.

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya” — Q.S. As Shaff: 8

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) membuat makar (tipu daya/rencana jahat) terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat makar dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” — Q.S. Al Anfaal: 30

Jaminan Allah tentang tetap tegaknya Dienul Islam begitu kuat. Setiap muslim percaya itu. Bisa saja negara dan kebudayaan Islam di hancurkan, maka pasti akan tumbuh lagi cahaya Islam di sudut bumi Allah yang lain untuk menggantikannya.

Demokratisasi Arab.

Konflik yang terjadi di kawasan timur tengah dan melibatkan banyak negara muslim sesungguhnya berawal dari tumbuhnya kesadaran kaum muda terdidik di negara-negara tersebut yang sedikit banyak mendapatkan pengaruh dari gerakan demokrasi dan hak asasi manusia yang di gembar-gemborkan oleh negara-negara Barat dan Amerika.

Gerakan ini memang efektif menjungkir-balikkan kemapanan para diktator muslim di negara-negara Arab dan Afirika. Api revolusi rakyat yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan The Arab Spring ini dimulai dari jatuhnya diktator Tunisia Mohammed Bouazizi pada Desember 2010 oleh gerakan rakyat. Selanjutnya gerakan serupa menjalar ke Aljazair, Yordania, Mesir dan Yaman. Negara-negara muslim seperti menggeliat serentak untuk membangun negara mereka menjadi lebih demokratis.

Tapi beberapa upaya itu tak pernah mudah. Alih-alih tercipta masyarakat demokratis yang mereka impikan, negara mereka justru hancur terjebak dalam konflik dan perang saudara yang berkepanjangan. Ajaran demokrasi dan hak asasi manusia yang mereka telan mentah dan memaksakannya untuk segera terwujud dalam tatanan kehidupan ternyata harus mereka jual dengan harga yang amat mahal. Hilangya kedaulatan dan marwah mereka sebagai negara muslim yang berdaulat! Negara Eropa berebut mengambil peran dan dominasi di puing-puing negara Islam itu, tentu dengan pamrih.

Baca juga:  Raja Saudi Menyetujui Dukungan Untuk Para Operator Haji Setelah Covid-19

Islamisasi Eropa.

Negara-negara Islam hancur kedaulatannya. Rakyat yang beragama Islam itu hidup kocar-kacir tak tentu arah. Banyak di antara mereka yang memilih menjadi imigran dan bertolak menuju negara-negara Eropa yang telah memberikan mimpi kebebasan dan perlindungan atas hak asasi manusia secara lebih baik.

Dengan berbagai cara yang tergolong nekad. Ratusan ribu imigran dari Timur Tengah masuk ke negara-negara Eropa. Perancis, Italia, Belanda, Jerman dan Yunani menjadi tempat tujuan para imigran tersebut. Pada tahun 2016, organisasi migrasi internasional (IOM) yang berpusat di Jenewa mencatan ada 102,547 pengungsi Timur Tengah yang sampai ke Yunani, sementara itu 7507 yang lainnya telah sampai di Italia. Organisasi ini juga mencata adanya pertambahan signifikan jumlah pengungsi pada setiap tahunnya, semenjak konflik terjadi di kawasan Timur Tengah (Tempo.co)

Tak pelak, gelombang imigrasi ini membuat negara-negara Eropa juga klimpungan. Banyak diantara mereka yang kemudian menutup pintu rapat-rapat masuknya imigran ke negara mereka. Situasi ini membawa polemik yang luas. Prinsip hak asasi manusia yang mereka pegang kuat terkadang menjadi masalah serius dalam pengambilan kebijakan internal terkait para pengungsi ini.

Wal hasil tak semua negara Eropa menutup rapat kedatangan pengungsi dari Timur Tengah. Jerman misalnya, meski ada penolakan kuat dari sebagian masyarakat dan partai oposisi, Jerman tetap membuka lebar pintu negaranya bagi kedatangan para pengungsi.

Pengungsi Timur Tengah yang muslim itu, hari ini telah menyebar ke berbagai negara di Eropa. Tentu dengan membawa adat, nilai dan keyakinan mereka sebagai muslim. Negara Eropa yang umumnya sekuler tetap memberikan kebebsan dalam menjalankan agama, asal tak masuk ranah politik dan ruang publik.

Apa yang kemudian terjadi? Warga negara asli di Eropa umumnya sudah malas untuk memiliki anak. Angka pertumbuhan beberapa anegara tersebut bahkan sangat rendah. Nah, kedatangan para pengungsi Timur Tengah ini membawa perubahan demografi yang luar biasa. Para muslimah yang subur itu melahirkan anak-anak mereka di Eropa! Angka kelahiran naik berkat kedatangan para imigran tersebut.

Wajar jika di beberapa negara Eropa nama populer bayi yang baru lahir, belakangan ini adalah: Muhammad! Mereka generasi muslim yang akan menjadi masa depan Eropa. Interaksi para imigran muslim dengan warga asli juga sedikit banyak membuat perubahan cara pandang terhadap Islam, sehingga banyak pula diantara mereka yang berubah menjadi pemeluk Islam.

Baca juga:  Malaysia Berupaya Mendongkrak Pariwisata Islam Pasca Covid-19

Prof Abdul Mukti dalam sebuah pengajian bertajuk “Islam dan Islamophobia di Eropa” di Pimpinan Pusat Muhammadiyah pernah menyampaikan data yang menarik, dalam rentang waktu 3 dasa warsa terakhir jumlah pemeluk Islam naik sekitar 300 persen.

Pada tahun 2019, jumlah penduduk muslim yang berdiam di benua Eropa diprediksi mencapai 45 juta orang. Angka ini menempatkan Islam sebagai agama terbesar ke dua setelah Kristen. Saat di Eropa bahkan telah ada 3 negara yang penduduknya mayoritas muslim: Bosnia dengan penduduk muslim mencapai 55%, Al Bania penduduk muslimnya 80% dan Kosovo yang memiliki jumlah penduduk muslim 90% (Republika.co.id)

Di belanda penganut Islam telah tumbuh mencapai 1 juta jiwa lebih. Tak kalah mengejutkan, sebagaimana disebutkan dalam data Office National Statitistic (ONS) Inggris ternyata memiliki populasi muslim yang sangat besar yakni 3 juta jiwa lebih, tepatnya 3.194.791 jiwa.

Sebuah lembaga survey bernama Pew Research Center memprediksi bahwa pendudk muslim di Eropa pada tahun 2050 akan naik dua kali lipat dibandingkan angka pada tahun 2016. Bahkan jika tanpa menghitung imigran muslim, angkanya akan menjadi 7.4% di seluruh Eropa.

Eropa akan menjadi benua muslim sebuah kenyataan sejarah yang insya allah akan tejadi. Beberapa sebak yang mengakibatkan angka pertumbuhan muslim naik di Eropa:

Pertama, kekuatan Islam sebagai sebuah ajaran dan orisinalitas Al Quran sebagai sumber ajaran Islam. Masyarakat Eropa adalah masyarakat terdidik yang selama ini gelisah dengan doktrin agama yang mereka anut yang kerap menghadapkan mereka pada konflik kebenaran. Ada ketidak puasan atas agama yang mereka peluk. Di sisi lain Al-Quranul karim kitabnya umat Islam tampil dengan doktrin yang memukau, rasional dan tidak bertentangan antara satu teks dengan teks lainnya.

Kedua, momentum teror yang mengatasnamakan Islam pada peristiwa penabaran gedung WTC. Publik Amerika dan Eropa umumnya jadi ingin tahu tentang Islam karena peristiwa tersebut. Mereka mempelajari Al-Quran dan banyak di antara mereka yang kemudian masuk Islam.

Ketiga, interaksi dengan imigran muslim dan komunitas Islam di Eropa. Sedikit banyak perilaku imigran muslim menyadarkan masyarakat Eropa tentang Islam dan kaum muslimin yang ternyata berbeda dengan steorotipe yang dilabelkan oleh media Eropa atas Islam dan kaum muslimin. Rasionalitas mereka menjadi pintu masuk yang penting bagi penerimaan atas ajaran Islam.

Begitulah sunatullah berlaku. Negeri-negeri muslim di Timur Tengah hancur tapi jiwa-jiwa Islam justru makin berkembang dan saat ini dengan pelan namun pasti, Eropa akan menjadi rumah baru bagi kaum muslimin. Insya Allah.