Jika kita bicara kualitas kepemimpinan dan merujuk kepada pribadi-pribadi yang kudus semacam para nabi dan rasul, maka jiwa kerdil manusia akan berkata, "mereka kan rasul yang dipilih Tuhan, wajar dong jika mereka hebat…"

Kapasitas Kepemimpinan Bervisi Dunia Dan Akhirat
Foto oleh Hunters Race di Unsplash

Mengapa Umar bin Khattab begitu dikenang?, mengapa Umar Bin Abdul Aziz begitu berpengaruh?, mengapa pula Salahudin al Ayubi begitu menginspirasi? Jika anda bertemu dengan tiga sosok ini, maka anda akan dapati mereka adalah manusia yang secara wajah tidak jauh berbeda dengan kita. Bahkan tampilan fisiknya mungkin kelewat sederhana jika dibandingkan dengan penampilan kita yang selalu trendy dan glamour.

Tapi kesaksian sejarah tidak pernah berbohong. Dibalik kesederhanaan jasadiah dari ketiga tokoh ini, semua manusia di jagad ini rasanya bersepakat bahwa didalam semua kesederhanaan penampilan mereka, bersemayam ke-agungan jiwa yang luar biasa. Sehingga dunia mengenang mereka sebagai sosok-sosok mulia. Gerak perilaku mereka hingga hari ini masih saja mengalirkan inspirasi-inspirasi yang dahsyat. Mereka masih dikagumi dan di hormati.

Tiga Orang yang sedang kita bicarakan ini bukanlah dari kalangan Nabi & Rasul Allah. Mereka adalah manusia biasa yang tidak menerima wahyu. Jika kita bicara kualitas kepemimpinan dan merujuk kepada pribadi-pribadi yang kudus semacam para nabi dan rasul, maka jiwa kerdil manusia akan berkata, “mereka kan rasul yang dipilih Tuhan, wajar dong jika mereka hebat…” Maka mari kita lihat tiga manusia biasa diatas, mengapa mereka memperoleh posisi yang begitu agung disisi manusia, dan abadi di dalam memori sejarah?

Para penggali kearifan umumnya melihat tiga hal sederhana yang menghiasa keseharian dari tiga pemimpin besar tersebut:

Pertama, Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah terbebas dari pesona dunia. Mereka punya visi, bahwa dunia harus dibikin lebih baik, bukan untuk dituruti apalagi menghamba pada kesenangannya yang fana. Sikap ini lah yang membuat mereka mampu bergerak secara total meluangkan semua potensi pemikiran dan energinya untuk membangun tatanan masyarakat yang lebih baik, pamrih dunia telah mereka lipat.

Kedua, dalam semua kondisi fisik dan jasmani mereka yang sederhana itu, mereka adalah pribadi yang sangat kaya, dimana memberi dan meringankan penderitaan orang lain adalah energi hidupnya. Mereka memiliki cara untuk selalu terlibat dalam pemecahan masalah, sehingga hidup mereka penuh manfaat bagi orang lain.

Ketiga, mereka memimpin dan menggerakkan orang dengan keteladanan. Jika mereka ingin masyarakat melakukan sesuatu, mereka tidak sibuk membuat aturan atau konsep-konsep yang rumit. Mereka hanya melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sehingga kebaikan atau perbuatan baik itu ditiru oleh para pengikutnya. Tanpa orasi yang menggebu, tanpa peraturan yang njlimet, masyarakat tergerak oleh keteladan dan ketulusan yang mereka tunjukkan.

Baca juga:  Dalam Pahitnya Kopi ada Manisnya Pertemanan, Dalam Manisnya Gula Ada Getirnya Kesehatan

Siapapun di dunia ini, akan efektif kepemimpinannya, jika mereka mampu menanamkan tiga hal ini di dalam kehidupan. Beberapa persyaratan kepemimpinan semacam keberanian, komunikatif, dan kecerdasan memang telah dimiliki para pemimpin kita dewasa ini.

Namun tiga hal yang bersemayam di hati Umar bin Khatab, Umar Bin Abdul Aziz, dan Salahudian Al Ayubi belum secuil pun terpahami oleh para pemimpin tersebut. Sehingga kecerdasan, keberanian dan kepintaran berkomunikasi yang mereka miliki seringkali tidak berujung pada kearifan dan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya.

Sehingga kadar kepemimpinannya hanya bisa efektif dengan dukungan aturan, paksaan dan tentu saja legitimasi hukum berupa surat kuasa. Ia bisa memerintah, tapi tidak menggerakkan. Tanpa syarat dan ketentuan ia akan menjadi orang biasa kembali yang mungkin diacuhkan oleh mantan anak buahnya sendiri.

Jika keberanian, kecerdasan, dan kepintaran itu didukung oleh tiga hal yang dimiliki oleh para pemimpin yang kita sebut diatas, maka kepemimpinan yang muncul adalah kualitas kepemimpinan yang menggerakkan, menginspirasi dan menebarkan cinta.

Menjadikan Allah Sebagai Tujuan.

Dibalik kemampuan tiga tokoh yang menginspirasi kaum muslimin sepanjang sejarah ini, sesungguhnya ada satu hal mendasar yang menjadi paradigma penting sehingga muncul kualitas pribadi yang tidak terjebak pada pesona dunia. Bahkan mereka selalu berkontribusi dalam persoalan masyarakatnya, serta mampu menempa diri agar menjadi figur teladan. Paradigma tersebut adalah, meletakkan Allah sebagai tujuan dan orientasi atas semua tindakan yang mereka lakukan.

Tidak ada pamrih lain selain dalam rangka menggapai mardhotillah. Inilah yang membuat para figur teladan tersebut mampu bebas dari jebakan pesona dunia. Tentu ada proses yang tidak mudah, agar seseorang mampu mengelola hati dan nafsunya untuk taat dan hanya berorientasi pada Allah. Apa proses yang mereka lewati?

Baca juga:  Malaysia Berupaya Mendongkrak Pariwisata Islam Pasca Covid-19

Setidaknya ada empat proses penting yang dijalani oleh ketiga tokoh tersebut sehingga muncul kualitas diri yang mumpuni. Tiga hal terebut adalah:

  1. Selalu belajar, yang berujung pada kesadaran tentang hakekat kebenaran. Kita tahu Umar bin Khatab misalnya, adalah sosok yang haus pada pengetahuan dan kebenaran. Ia digembleng langsung oleh Rasulullah SAW. Umar kemudian berubah menjadi sosok yang taat pada kebenaran dan berjalan diatas kebenaran itu.
    Jenis belajar yang berujung pada kesadaran tentang hakekat kebenaran, bukanlah belajar untuk sekedar tahu belaka. Tetapi harus diikuti penerapan dan keberpihakan pada kebenaran tersebut dalam sikap hidup.
  2. Mendekatkan diri kepada Allah. Tiga sosok yang kita bahas ini adalah pribadi yang taat pada Allah dalam ibadah dan hukum. Mereka memiliki intensitas ibadah yang sangat tinggi. Taat pada aturan Allah dan menjauhi maksiat. Senantiasa bertaubat, rajin ibadah sunnah, senantiasa sholat tahajud dan puasa sunnah. Intensitas dalam mendekatkan diri ini pula yang membuat kepemimpinan mereka makin efektif karena pertolongan dan kemudahan yang Allah berikan.
  3. Bervisi dunia akhirat. Tak sekedar dalam rangka mencapai kesuksesan di dunia. Para pemimpin hebat ini memiliki keinginan yang kuat untuk sukses berdakwah menegakkan kalimat Allah di muka bumi dalam rangka mencapai kualitas dan kesuksesan hidup di akhirat.
    Mereka mampu menempatkan dunia dan isinya sekedar sebagai media untuk berjihad dan mengabdikan diri kepada Allah SWT. Tidak rakus pada pesona dunia, sehingga terjaga dari sikap memanfaatkan kedudukan untuk memperkaya diri dan yang sejenisnya.
  4. Melayani manusia dalam rangka ibadah mereka kepada Allah azza wajalla. Memimpin dan melayani orang banyak dengan standar ke-ikhlasan karena Allah ta’ala. Sehingga bukan saja prosedurnya benar, tapi juga memberikan layanan dengan kualitas yang tinggi. Kepemimpinan bagi mereka adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan saja kepada manusia tetapi juga kepada Allah di yaumil akhir nanti.

Inilah model kepemimpinan profetik sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Kepemimpinan berparadigma tauhid dan bervisi dunia akhirat. Akankah muncul kembali kualitas kepemimpinan seperti ini?

Wallahu a’lam