Hingga akhir Desember 26 Desember 2020 atau setahun semenjak kasus pertama diketemukan, setidaknya sudah sekitar 79, 8 juta penduduk dunia yang dinyatakan terinfeksi. 45 juta diantaranya dinyatakan berhasil sembuh, sementara itu lebih dari 1,7 juta jiwa dinyatakan meninggal karena terinfeksi Covid 19.

Kini Vaksin Covid 19 Menjadi Harapan
Photo by Jakayla Toney on Unsplash

Hampir satu tahun penduduk bumi dirundung kemalangan. Bentuk kemalangannya mungkin tak sama, tapi penyebabnya sama yakni Corona Virus atau yang akrab disebut sebagai Covid 19. Semenjak pertama kali kasusnya diketemukan pada awal Desember 2019, virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia sehingga kini vaksin Covid 19 menjadi harapan seluruh negeri untuk mengatasinya.

Hingga akhir Desember 26 Desember 2020 atau setahun semenjak kasus pertama diketemukan, setidaknya sudah sekitar 79, 8 juta penduduk dunia yang dinyatakan terinfeksi. 45 juta diantaranya dinyatakan berhasil sembuh, sementara itu lebih dari 1,7 juta jiwa dinyatakan meninggal karena terinfeksi Covid 19. Di Indonesia pada tanggal yang sama tercatat sebanyak 693 ribu jiwa yang terinfeksi. 564 ribu diantaranya berhasil sembuh, sementara itu lebih dari 20 ribu yang lainnya meninggal dunia.

Telah banyak dikupas, bahwa pandemi Covid 19 memiliki implikasi yang sangat luas bagi kehidupan umat manusia pada dekade ini. Virus ini tidak hanya menjadi persoalan dunia kesehatan tapi juga menjadi ancaman nyata bagi imunitas ekonomi suatu bangsa, mengancam stabilitas politik, mengganggu tatanan sosial dalam skala luas, dan memicu berbagai krisis lain yang bersifat multi-dimemsional.

Dengan implikasinya yang luas itu, Covid 19 tak hanya membikin susah orang yang terinfeksi. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, jutaan perusahaan harus bubar dan pailit, pengangguran meningkat dengan pesat, angka kemiskinan naik di seluruh dunia. Bahkan yang lebih parah lagi, Covid 19 dalam satu tahun ini lumayan efektif untuk menghilangkan beberapa kebiasaan lama dan menggantikannya dengan kebiasaan baru. Manusia seakan dituntut pula untuk mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial yang suka bercengkerama dan berkomunikasi dalam jarak dekat dengan sesamanya.

Situasi ini tentu membuat banyak orang yang tertekan, bahkan tidak sedikit yang telah berputus asa dan mengambil sikap masa bodoh dengan segala risiko yang bisa terbit akibat Covid 19. Banyak yang bergumam: “Kena virus belum tentu mati, tapi tidak bisa kerja dan tidak bisa makan, bertahan – lahan juga akan mati.”

Baca juga:  Jamuan Gelap Yang Dikagumi Allah Azza Wa Jalla

Sikap masa bodoh yang lahir dari keputus-asaan sudah barang tentu akan menghadirkan masalah yang lebih besar. Akibat sikap masa bodoh, penerapan protokol penanganan Covid 19 makin diabaikan. Tidak disiplin menggunakan masker, tidak menetapkan social distancing sebagaimana di sarankan, dan lain-lain.

Lihatlah, sikap masa bodoh itu kemudian menuai masalahnya. Di berbagai negara angka terinfeksi terus mengalami peningkatan. Sehingga otoritas semua negara kembali harus mengetatkan pembatasan sosial. Dampaknya kemudian, ekonomi makin terpuruk dan pemutusan hubungan kerja terus meningkat.

Di dalam Islam, sikap putus asa dilarang oleh Allah SWT. “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha pengampun” (Q.S. Az Zumar: 53). Salah satu hikmah dilarang berputus asa adalah agar manusia terhindar dari kebinasaan. Orang yang berputus asa biasanya bertindak di luar nalar yang sehat, cenderung destruktif dan membahayakan bagi diri dan orang lain.

Berputus asa condong menutup hati dan pikiran untuk mendapatkan jalan keluar. Maka wajar jika ajaran Islam melarang umatnya berputus asa.

Para ahli memang menyebutkan belum ada obat untuk sakit yang diakibatkan oleh Covid 19, seperti halnya obat flu untuk meredakan sakit flu karena virus influenza. Namun para ahli kesehatan juga memberikan berbagai alternatif harapan agar kita bisa bertahan dan sembuh dari Covid 19. Menjaga imunitas tubuh dan mengkonsumsi berbagai herbal disinyalir dapat mencegah dan mengobati seseorang yang terinfeksi virus corona.

Berita gembiranya, meski belum ada obat, dalam beberapa bulan ini warga dunia seakan dinyalakan kembali harapan dan optimismnya. Beberapa negara ternyata telah mampu mengembangkan vaksin yang dapat mencegah infeksi Covid 19. Tentu kabar ini menggembirakan banyak pihak. Dengan adanya vaksin, boleh jadi virus corona tetap masih ada, tapi sistem vaksin akan bekerja untuk melindungi tubuh dari tertular virus tersebut.

Setidaknya saat ini telah ada 10 kandidat vaksin Corona. Beberapa negara yang mengembangkan vaksin untuk Covid 19 antara lain adalah Amerika Serikat, Rusia, China, dan lain-lain. Indonesia melalui perusahaan Bio Farma juga turut berinovasi dalam mengembangkan vaksin untuk Covid 19.

Baca juga:  Penandatangan Perjanjian Kerja Sama BPJPH Dan KNEKS Tentang Fasilitasi Sertifikasi Halal Usaha Mikro Dan Kecil

Beberapa kandidat vaksin tersebut mengaku telah memasuki fase-fase akhir uji coba kelayakan dengan melibatkan relawan secara langsung untuk menguji efektifitas dan keamanannya. Indonesia meski perusahaan farmasi dalam negeri ada yang mengembangkan vaksin, namun mengingat kebutuhannya yang besar dan kapasitas perusahaan yang terbatas, pemerintah telah bekerjasama dengan Sinovac, sebuah perusahaan farmasi asal negeri China. Bahkan uji coba vaksin Sinovac telah dilakukan di Bandung dan akan berakhir pada bulan Maret 2021.

Nah, saat ini vaksin Sinovak telah ada yang mendarat di Indonesia. Presiden Joko Widodo bahkan telah memberikan pernyataan resmi bahwa vaksinasi Covid 19 akan digratiskan bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk menepis beberapa keraguan soal efektifitas vaksin ini, presiden bahkan siap untuk menjadi orang pertama di Indonesia yang divaksin.

Kita perlu bersyukur dengan adanya vaksin ini. Sembari berharap vaksin bekerja efektif tanpa efek samping yang membahayakan. Namun tak boleh juga bersikap over conviden, bahwa vaksin akan menuntaskan segalanya. Tak perlu juga bersikap terlalu skeptis dan menjadi anti vaksinasi. Kita harus percaya pada kaidah scientific, untuk sampai pada hasil yang siap digunakan untuk manusia, produk kesehatan seperti vaksin pastilah telah mengikuti serangkaian uji coba dan pengamatan yang ketat dan serius.

Semoga kabar gembira tentang vaksin yang telah ditemukan dan siap digunakan untuk vaksinasi dalam satu atau dua bulan ini mampu menjadi “obat pendahuluan” bagi mentalitas bangsa kita yang tengah drop terimbas pandemi. Apalagi disusul kemudian dengan kabar gembira yang lain, vaksinasi akan digratiskan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tunggu kabar baik berikutnya, bahwa vaksin-vaksin yang digunakan di Indonesia benar-benar efektif menghentikan penularan Covid 19, sehingga kita bisa hidup normal sebagaimana sebelumnya.