Saat beliau mendengar perkataan para sahabat-sahabatnya, ada yang bilang bahwa Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah.

Kita Ini Membanggakan Apa
Foto oleh Nguyen Dang Hoang Nhu di Unsplash

Tak ada manusia yang mampu mencapai ketinggian akhlak selain Rasulullah ﷺ. Di situasi apapun dan di tempat manapun beliau selalu bisa menampilkan ketinggian akhlak seorang manusia mulia. Bertubi pujian datang tak membuatnya pongah dan lupa daratan, sebagaimana hantaman cerca dan makian tak membuatnya kalah dan hilang pegangan.

Lihatlah betapa tinggi akhlak beliau saat menyampaikan kemuliaan-kemuliaan dari Allah yang teruntuk diri beliau sendiri. Tak ada rasa bangga, tak ada jumawa, tak ada pongah, tak ada takabur dan juga kesombongan. Saat beliau mendengar perkataan para sahabat-sahabatnya, ada yang bilang bahwa Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Ada lagi yang bilang, Nabi Musa telah diselamatkan oleh Allah. Ada lagi yang bilang Nabi Adam telah dipilih oleh Allah. Ada lagi yang bilang bahwa Nabi Isa adalah kalimat dari Allah dan ruh dari Allah.

Selanjutnya beliau berkata,

“Akulah kekasih Allah dan tak ada kebanggaan selain itu. Akulah pembawa panji pujian pada hari kiamat dan tak ada kebanggaan selain itu. Akulah orang pertama yang memberi syafaat dan yang diberikan syafaat pada hari kiamat dan tak ada kebanggaan selain itu. Dan akulah semulia-mulia makhluk dari yang pertama hingga yang terakhir dan tak ada kebanggaan selain itu.”

Tapi akhlak kenabian tak hanya menyemat pada beliau semata, namun semua nabi sejatinya berhias dengan ketinggian akhlak yang sama. Bahkan yang paling luar biasa adalah saat Allah menjadikan Nabi terakhir sebagai orang pertama yang masuk surga sekaligus pemegang kuncinya, adakah terdengar dari para nabi pendahulunya yang meletupkan protes dan keberatan? Sama sekali tidak ada.

Baca juga:  Dalam Pahitnya Kopi ada Manisnya Pertemanan, Dalam Manisnya Gula Ada Getirnya Kesehatan

Rasulullah ﷺ tak jadi jumawa meski ditahbiskan sebagai orang pertama yang menyentuh surga padahal ia nabi yang paling terakhir. Sedang para nabi pendahulunya pun tak pernah protes kepada Allah dengan berkata misalnya,

Atas dasar apa kami dijadikan pengikut sedang kami adalah nabi-nabi pertama?

Atas alasan apa kami tak dijadikan orang pertama yang masuk surga padahal kamilah yang pertama berdakwah, pertama berjuang, pertama mengemban risalah, pertama berkontribusi, pertama berkarya dan berkhidmat buat agama?

Semua ungkapan protes dan keberatan itu sama sekali tak keluar dari mulut-mulut mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang Allah berikan kemuliaan berupa ketinggian akhlak.

Tak seperti kita.