Zaman sekarang orang bicara dan mengamalkan tawakal, atau sabar, atau wara', atau apapun dari bagian cabang iman akan terasa terasing, terkucil, dan bahkan dianggap aneh, malah yang paling parahnya dianggap tak ada dan tak perlu didengar.

Penyakit Penyertaan Dalam Jiwa Yang Perlu Diperhatikan
Foto oleh Leonhard Niederwimmer di Unsplash

Iman adalah rezeki paling agung dan utama dari Allah, dan dialah sesuatu yang paling rentan berkurang atau bahkan hilang, sebab setan saat menipu manusia maka dia punya prioritas, dan prioritas paling pertama adalah menghilangkan iman seseorang, atau minimal membuatnya berkurang dan rusak. Sebelum setan menggoda manusia untuk membunuh, mencuri, berzina, atau apapun dosa besar lainnya maka dia telah merusak dulu iman seseorang, sebab saat iman seseorang sudah rusak maka ia akan mudah tergoda pada dosa yang lain.

Lihat saja betapa banyak Rasulullah SAW menyatakan rusaknya iman seseorang saat ia bermaksiat dengan ungkapan “Demi Allah ia tidak beriman”, atau” Tidaklah sempurna iman seseorang”. Itu semua menegaskan bahwa maksiat tak akan ada kecuali saat iman seseorang sedang rusak. Sebab mustahil jika imannya baik tetapi di saat yang sama ia bermaksiat.

Dan karena setiap mukmin wajib bersikap dan berperilaku yang mencerminkan keimanan, maka ia harus menjaga imannya agak tak hilang atau berkurang. Saat iman terjaga dengan baik maka seluruh cabang keimananpun juga akan terjaga. Tawakalnya, sabarnya, wara’nya, ridhonya dan lain sebagainya akan terjaga. Sebaliknya juga sama, saat imannya rusak maka rusak pula tawakalnya, sabarnya, wara’nya, dan ridbonya.

Ketika Allah menurunkan ujian, dan kita ambil contohnya sekarang adalah ujian pandemi covid-19, secara medis bila tubuh kita sehat dan tak memiliki penyakit berat sebagai penyerta yang sering disebut dengan komorbid maka kemungkinan kita tetap sehat dan sembuh sangat besar. Tetapi sebaliknya bila tubuh kita tak sehat dan memiliki penyakit penyerta yang berat maka juga besar kemungkinan kita tak selamat.

Nah, ujian keimanan pun sama seperti itu. Saat Allah turunkan ujian dan iman kita baik dan sehat niscaya kita akan selamat dunia akhirat. Tetap saat iman kita rusak dan tidak baik maka besar kemungkinan kita tak selamat dunia akhirat. Dan inilah yang hendak dibahas.

Saat Allah turunkan ujian pandemi covid-19 dan iman kita baik maka seluruh sikap kita terkait pandemi akan baik, dan itu pertanda bahwa Allah senantiasa menuntun sikap kita.

Tapi saat iman kita rusak dan tidak baik maka seluruh sikap kita terkait pandemi juga akan tidak baik, dan boleh jadi rusak, itu karena Allah tak menuntun sikap kita akibat kita tak mau menjaga iman kita dengan baik.

Lalu apa gerangan dari sikap kita yang rusak dan tidak baik terkait pandemi?

Baca juga:  Menjelajahi Hutan Lumut Di Gunung Slamet

Bukankah lantas kita menjadi berkubu-kubu dalam menyikapi pandemi dan apa saja yang terkait dengan pandemi ini?
Paling tidak yang paling menonjol adalah terbentuknya dua kubu; pertama adalah kubu yang berkeyakinan bahwa pandemi ini adalah murni konspirasi, sedang kubu kedua adalah yang berkeyakinan bahwa ia mutlak tak ada konspirasi sama sekali. Dan berakhir dengan pertengkaran sepanjang waktu.

Lalu ada lagi munculnya dua kubu pendukung vaksin dan anti vaksin. Sama, berakhir dengan pertengkaran sepanjang waktu. Setiap saat ada kesempatan bertengkar maka bertengkar. Waktu habis sehabis-habisnya untuk mencari, membaca, menelaah, dan menyimak seluruh informasi hanya untuk menambah amunisi pertengkaran.

Puluhan tahun kita hidup sebagai seorang muslim dan mukmin tapi kita tak kunjung bisa memanfaatkan waktu untuk memperbaiki amal ibadah kita, seakan tak ada waktu lagi buat belajar agama, dan bahkan ibadah ringan semisal membaca alquran pun kita masih tak lancar, apalagi menghafalnya. Kadang juz amma tak pernah kita selesaikan padahal kita hidup sebagai muslim sudah puluhan tahun. Tapi giliran bertengkar masalah vaksin dan konspirasi kita paling terdepan, antusias dan konsentrasi, seakan kita berada pada pertempuran akhir zaman melawan Persi dan Romawi.

Acapkali dua kubu diatas sama-sama melampaui batas, dan sama-sama berlebihan. Dan pertengkaran yang terjadi diantara mereka itulah bukti nyata bahwa mereka melampaui batas.

Yang pendukung vaksin kadang kala sikapnya berlebihan hingga seakan-akan kurang selamat atau bahkan tak akan bisa selamat kecuali dengan melakukan vaksin. Lalu membuat segala macam kebijakan terkait vaksin tanpa melihat penting atau tidak kebijakan itu dibuat, tepat atau tidak kebijakan itu dibuat atas nama keselamatan nyawa.

Anjuran, himbauan, dan segala rupa arahan disampaikan, bahkan sekadar basa-basi bertemu saudara dan kawan pun yang dilontar adalah pertanyaan, “Kamu sudah vaksin?”

Semua didorong oleh rasa kekhawatiran dan ketakutan akan kematian bila sampai tertular. Dan……

Tawakal pun berganti arah kepada vaksin, bukan lagi kepada Allah Robbul alamin.

Inilah bukti rusaknya iman. Dan inilah dia komorbid jiwa dan rohani seseorang.

Seharusnya kita cukup berhenti pada syariat ikhtiar, yaitu melengkapi dan menyempurnakan tawakal kita dengan ikhtiar suntik vaksin dan selesai. Tak usah lagi kita menyatakan, menegaskan, dan sampai bertengkar untuk ikhtiar vaksin seakan vaksinasi itulah yang akan menyelamatkan kita. Dan tawakal yang sudah mulai bergeser adalah tanda bahwa iman kita sedang rusak. Toh dalam berislam kita diwajibkan ridho atas semua takdir Allah. Tak usahlah berlebihan dalam meyakini bahwa kematian akibat covid-19 ini besar kemungkinan akibat tidak melakukan vaksin.

Baca juga:  Pesona Wisata Di Negara Turki

Demikian juga dengan kubu kedua yang menolak vaksin. Seringkali mereka melampaui batas seakan menolak vaksin adalah bukti totalitas dan sempurnanya tawakal mereka kepada Allah. Lalu dengan arogan berbicara dan bersikap seakan menantang-nantang. Padahal….. Tawakal kita dengan cara bodoh semacam ini justru menunjukkan iman yang juga sama rusaknya.

Dulu ada sahabat Rasulullah bernama Khalid bin Walid ra. Beliau ingin tunjukkan kepada pasukan kafir bahwa beliau dan pasukannya adalah tentara luar biasa. Lalu sengaja meminum racun dan ternyata beliau tak mati. Apa tawakal kita sudah sampai selevel Khalid?

Sahabat kedua adalah Saad bin Abi Waqqash ra. Saat pasukannya hendak menaklukkan Persia ternyata dihadapkan pada sungai Dijlah dan tak mungkin menyeberanginya tanpa kapal. Tetapi beliau memohon kepada Allah dan mengencangkan tawakalnya hingga akhirnya beliau dan pasukannya menyeberangi sungai dengan hanya menunggang kuda tanpa ada yang tenggelam. Apa tawakal kita sudah sampai selevel Saad?

Berikutnya adalah sahabat lain bernama Salamah bin al Akwa’. Saat peperangan beliau melihat satu penunggang kuda dari musuh dan beliau hendak menangkapnya. Beliau pun memacu kuda sekuatnya agar bisa mengejar, tetapi sang musuh masih tak terkejar. Maka beliau pun turun dari kudanya dan berharap kepada Allah bisa menangkap musuh tersebut dengan cara berlari mengejar tanpa kuda. Dan musuh pun tertangkap. Apa tawakal kita sudah sampai selevel Salamah?

Boleh jadi mereka mendapatkan karunia dari Allah berupa karomah sebab mereka adalah orang-orang pilihan. Lalu siapa yang menjamin kita mendapat karomah sedang iman kita dalam situasi rusak?

Iman kita rusak akibat adanya beraitan-bersitan ujub dan kesombongan yang kita bungkus atas nama kesempurnaan tawakal. Inilah yang juga disebut sebagai orang dengan komorbid jiwa dan rohani.

Buat kedua kubu yang berlebihan dan melampaui batas tersebut, komorbid jiwa ini sangat berbahaya. Kita akan mengalami perburukan situasi dan berakibat fatal sebab keimanan kita akan rusak karena tawakal yang bergeser dan berganti arah, bukan lagi kepada Allah tapi kepada vaksin. Dan juga rusak karena ujub dan kesombongan yang menyusup kedalam hati.

Dan sekali lagi, Islam mengajarkan sikap pertengahan dan tidak berlebih-lebihan kepada kita sudah sejak lama.