Pada setiap awal kerja kita maka boleh jadi kita sudah sucikan niat kita dari kerusakan. Kita hanya berharap pada pahala Allah ﷻ semata. Hanya ridho Allah yang kita cari. Ya, kadang kita selamat pada tahapan ini. Tapi ujian segera menyambut kita.

Lalu Dimana Level Kita Dibanding Abu Bakar Dan Umar
Foto oleh Jason Strull di Unsplash

Siapapun dari kita yang menginginkan seluruh amalnya hanya bernilai pahala di sisi Allah ﷻ hendaknya segera waspada dan berhati-hati. Segera kita teliti dengan seksama niat-niat kita. Terkhusus lagi bagi kita yang setiap saatnya adalah para penggiat dakwah dan sosial kemanusiaan. Kita para penggiat dakwah dan sosial kemanusiaan pasti tiada hari tanpa amal dan karya yang kita persembahkan kepada masyarakat. Maka setiap saat itu pula masyarakat melihat amal kita, karya dan kontribusi kita, juga program-program kita. Setiap saat!

Pada setiap awal kerja kita maka boleh jadi kita sudah sucikan niat kita dari kerusakan. Kita hanya berharap pada pahala Allah semata. Hanya ridho Allah ﷻ yang kita cari. Ya, kadang kita selamat pada tahapan ini. Tapi ujian segera menyambut kita.

Saat puluhan dan bahkan ribuan pujian datang dari masyarakat kepada kita melalui lisan secara langsung, atau di akun-akun media sosial kita, dan bahkan datang bertubi-tubi di akun pribadi WhatsApp kita. Semua pujian itu datang bukan tanpa sebab. Boleh jadi karena amal kita memang diberikan keberkahan oleh Allah tersebab keikhlasan niat kita di awal. Karena diantara tanda keberkahan adalah banyaknya orang merasakan kebaikan kita. Wajar masyarakat melayangkan ribuan pujian kepada kita, terlebih berterima kasih adalah bagian dari kebaikan itu sendiri.

Boleh jadi di awal kerja kita siapkan suatu amalan kerja yang sangat baik. Kita kaji, kita rumuskan, kita diskusikan, kita dengarkan semua masukan para guru, kita simak semua nasihat dan arahan para ahli, maka hasil kerja kita sangat memuaskan. Kita sukses sebab kita bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kesuksesan inilah yang mengantarkan banyak pujian. Semua berterima kasih kepada kita. Dan di tahap ini tidak ada masalah. Justru masalah baru akan muncul di tahap berikutnya saat kita mempersiapkan amal lanjutan, juga kerja dan program berikutnya. Sebab tak mungkin setan diam saja membiarkan kita selamat seterusnya. Kita harus dijatuhkan…..

Selanjutnya setan mulai mendapat celah buat masuk dalam hati kita tersebab pintu sudah mulai terbuka. Manakah gerangan pintu yang mulai terbuka?

Dialah Pintu Pujian.

Sebab kita tak bisa berbohong bahwa kita suka dipuji. Ini sudah fitrah manusia dan tak mungkin kita mampu mengelak. Bahkan banyak orang suka dipuji atas amal yang tak dia kerjakan sebagaimana dalam ayat 188 surah Ali Imran,

Baca juga:  Memesan Takdir

“..dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan.”

Kata-kata yang baik jika ia sudah masuk melewati telinga maka ia akan jatuh ke hati. Kita semua sepakat akan hal ini. Sebagaimana padangan kita, jika ada yang kita sukai telah melewati mata maka ia pun akan jatuh ke hati.

Sebab berikutnya adalah kita tak mungkin membungkam mulut para pemuji kita. Maka bertemulah dua hal ini yang menyebabkan celah bagi setan buat masuk. Secara kodrat kita suka dengan pujian orang lalu kita pun tak mampu membungkam lisan para pemuji. Klop. Setan sedikit bergembira.

Dan saat berikutnya tatkala kita persiapkan amal kerja lanjutan, program lanjutan, kajian lanjutan, dan ceramah lanjutan setelah kesuksesan kita yang pertama, maka setan yang sudah mulai masuk melalui celah pujian segera berbisik-bisik mengingatkan kembali akan pujian orang kepada kita,

“Semoga orang-orang tetap kembali memujimu seperti kemarin”

Itulah jebakan pertama setan saat ia telah dapatkan celah masuk ke dalam hati kita. Ia hanya mengingatkan saja. Tak perlu dulu ia keluarkan jurus-jurus maut andalan buat menjerumuskan kita. Cukup baginya mengingatkan kita akan manisnya pujian orang atas kerja-kerja kita. Sebab jebakan yang sangat halus ini justru sangat menghanyutkan tanpa terasa. Seakan semua wajar, dan seakan semua lumrah di mata kita. Maka….

Kita mulai menikmati percikan-percikan suara hati bahwa kita harus lebih baik lagi saat menampilkan dan mempersembahkan amal-amal dan kerja-kerja kita. Harus lebih keren dari yang kemarin, harus lebih istimewa dari yang kemarin, harus lebih banyak mendapat sorotan kamera, dan harus lebih banyak yang memberikan like lalu di-share oleh ribuan pemirsa.

Bila di awal kesuksesan amal kita murni dengan niatan ikhlas mencari ridho Allah, maka kini mulai ada penunggangnya. Kini secara halus kita mulai menyertakan keinginan dan usaha meraih pesona agar aliran pujian tak terputus. Dan segera setelah amal dan aksi sosial kita laksanakan kita penasaran menanti datangnya puja-puji sebagaimana yang telah kita dapatkan sebelumnya.

Baca juga:  Covid-19, Depresi, dan Vaksin Spiritual

Kita menjadi rajin memantau pergerakan jumlah kalimat pujian. Dan tanda racun hati makin menjalar adalah, akhirnya kita merasa lebih bertambah semangat beramal dengan makin membanjirnya puja-puji atas amal dan kerja kita, sebab itu juga pertanda bahwa kita merasa makin menarik di hati masyarakat. Tapi tahukah jebakan setan berikutnya..?

Saat ternyata harapan puja-puji tak datang sesuai harapan. Cobalah kita tengok dan dengarkan suara hati kita saat turun dan anjloknya grafik puja-puji atas amal dan kerja kita yang sebelumnya kita sudah upayakan sebaik-baiknya, bahkan seakan jauh lebih baik dari amal dan kerja kita sebelumnya? Dengan tenangnya setan akan berbisik,

“Kenapa amal dan kerja sebagus ini tak mendapat sambutan berarti?”

Dahulu Abu Bakar pernah berkata saat dibaiat menjadi khalifah,

“Sungguh Aku telah dijadikan pemimpin sedang Aku tak lebih baik dari kalian!”

Bagaimana mungkin beliau bisa merasa tak lebih baik dari siapa pun? Bukankah beliau tahu semua keutamaannya yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ‎? Sangat mustahil jika sampai beliau tak tahu. Tapi itulah yang beliau ucapkan. Sebuah ungkapan dari dasar hati karena menjadi pemimpin bukanlah persoalan ringan. Tanggung jawabnya sangat berat. Hingga terucaplah kegundahan beliau,

“Sungguh Aku ingin menjadi sebuah pohon di tengah padang pasir, lalu ia habis dimakan oleh binatang dan akhirnya dikeluarkan sebagai kotoran, dan ia akan musnah. Tak akan ada hisab dan tak akan ada azab.”

Beliau tak ingin menjadi manusia yang harus meniti jalan hisab.

Melihat kekhawatiran Abu Bakar maka Umar pun berkata,

“Sungguh Aku ingin menjadi sehelai rambut yang tumbuh di dada Abu Bakar.”

Beliau pun tak ingin menjadi manusia sebagaimana Abu Bakar. Dan itu mereka ucapkan karena kekhawatiran akan hisab yang berat dari Zat Yang Maha cepat hisabnya.

Padahal siapa yang tidak tahu tentang amal dan kerja mereka yang sangat baik dan banyak? Tak ada yang meragukan bagaimana ibadahnya, jihadnya, dan kepemimpinannya. Tapi tetap mereka tak ingin menjadi manusia karena takut akan beratnya hisab.

Lalu dimana level kita dibanding Abu Bakar dan Umar?