Bagi anda yang suka wisata spiritual dan berpetualang, ada baiknya untuk merencanakan liburan ke Tana Toraja. Alam yang indah-murni dan makam-makam yang terpahat di dinding bukit batu dengan tengkorak dan tulang manusia yang masih utuh, mungkin akan memacu andrenalin jiwa petualangan anda.

Melawat Ke Pesona Utama Wisata Tana Toraja di Sulawesi Selatan
Upacara Adat Maktinggoro Tedong di Tana Toraja

Terletak kurang lebih 350 Km dari kota Makasar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Tana Toraja, saat ini memang menjadi salah satu objek wisata andalan, yang namanya telah dikenal luas di mancanegara, sehingga banyak sekali wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan ini. Pesona utama wisata Tana Toraja memang pada aspek budaya, terutama berbagai ritual khas yang hanya di dapati di daerah ini.

Meski demikian, sesungguhnya keindahan alam Tana Toraja juga sangat memukau dan tidak kalah dengan keelokan alam yang dimiliki oleh Sumatera Barat, Jawa Timur atau pun Sumatera Utara, meski tidak dapat dibandingkan antara satu dengan lainnya, karena masing-masing memiliki keunikan. Beberapa kalangan yang barangkali tidak terlalu tertarik dengan wisata budaya, sesungguhnya masih dapat memanjakan mata dengan hamparan pemandangan alam yang hijau, pegunungan yang terjal dan menantang untuk ditaklukkan.

Menuju Kawasan Tana Toraja.

Perjalanan menuju kawasan Tana Toraja dari Makasar dapat ditempuh melalui jalur darat dan jalur udara. Banyak diantara kita yang mungkin belum tahu, bahwa di Kabupaten Tana Toraja telah ada transportasi udara. Bandara yang dimiliki oleh Kabupaten Tana Toraja bernama Bandara Pongtiku. Wajar jika anda tidak kenal, bandara domestik ini memang relatif kecil, dengan panjang landasan pacu hanya sekitar 900 meter.

Pesawat yang bisa beroperasi di bandara Pongtiku dengan demikian juga terbatas. Hanya pesawat jenis Cassa dengan maksimal penumpang 24 orang yang dapat dilayani oleh bandara ini. Rute yang dilayani adalah Pongtiku – Sultan Hassanudin, Makasar dan sebaliknya. Jadwal terbangnya pun tidak setiap hari, hanya pada hari Selasa dan hari Jumat saja, bandara ini melayani pemberangkatan dan menerima kedatangan pesawat. Melalui perjalanan udara, Tana Toraja bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 45 menit dari Makasar.

Alternatif kedua adalah melalui jalur darat. Perjalanan dari Makasar menuju Tana Toraja dengan jalur ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 9 jam, hampir setara dengan perjalanan darat Jakarta Palembang. Ada beberapa pilihan sarana transportasi darat yang dapat digunakan untuk menjangkau Tana Toraja.

Pertama, jika kita telah memiliki hotel tujuan, kita bisa memesan kendaraan penjemputan melalui pihak hotel. Anda akan dijemput, tetapi jemputan itu bukan termasuk fasilitas hotel, anda akan dikenai biaya kurang lebih Rp. 1.300.000,-/ kendaraan. Pilihan ini bagus dipakai, jika anda datang secara berombongan yang terdiri atas 4-6 orang. Anda boleh memilih jenis kendaraan yang anda suka.

Dengan harga yang kurang lebih sama, kita bisa juga mendapatkan kendaraan carter yang ada di sekitar bandara Sultan Hasanuddin.

Kedua, Menggunakan Bus. Ada banyak bus yang melayani rute Makasar – Tana Toraja. Caranya pun relatif mudah, jika anda keluar dari bandara, ada taksi bandara yang bisa mengantar anda ke salah satu agen bus terdekat. Umumnya bus ini mulai berangkat dari Makasar jam 10 pagi. Anda bisa booking tiket bus dari bandara Hasanuddin via telpon. Tiketnya pun relatif murah, hanya Rp. 150.000/ orang, dan anda akan jalan-jalan selama 9 jam menyusuri sulawesi selatan dengan tiket itu, menuju Toraja.

Baca juga:  Memesan Takdir

Jika keperluan anda berkunjung ke Tana Toraja adalah dalam rangka liburan, perjalanan darat bisa menjadi pilihan menarik. Dalam rentang waktu 9 jam itu, anda sudah bisa mulai menikmati kemolekkan alam Toraja, Gunung Kandora & Gunung Gandang yang sakral bagi warga setempat akan bisa anda lihat dari bus yang anda tumpangi, pokoknya perjalanan 9 jam itu, dijamin tidak akan membosankan.

Wisata Unggulan.

Kabupaten Tana Toraja berpenduduk kurang lebih 460-an ribu jiwa, bertani adalah aktivitas ekonomi mayoritas masyarakatnya. Kawasan hutannya masih luas, dengan rumpun bambu yang menghijau, menjadi landscape indah dari bentangan petak-petak sawah yang subur. Alam yang kaya, tradisi dan budayanya pun sangat kaya.

Daya tarik utama Tana Toraja adalah upacara adat atau ritualnya yang khas. Ada dua ritual penting yang sangat terkenal dan umumnya menarik rasa ingin tahu masyarakat dari luar Tana Toraja. Dua ritual itu adalah upacara adat Rambu Solo’ dan upacara adat Rambu Tuka.

Upacara adat Rambu Solo’ hakekatnya adalah upacara pemakaman. Adat masyarakat Toraja mewajibkan kepada keluarga yang ditinggal mati untuk membuat pesta sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada mendiang. Upacara adat Rambu Solo’ ini terbagi dalam berbagai tingkatan yang mengacu kepada starata sosial keluarga di dalam masyarakat Toraja.

Tingkatan tersebut diukur dari lamanya waktu upacara adat dan jumlah hewan yang dipotong di dalam upacara tersebut. Ada upacara adat pemakaman yang diselenggarakan hanya satu malam, ada yang 3 malam dan dilakukan pemotongan hewan, ada yang 5 malam hingga ada pula yang melakukannya hingga 7 malam disertai dengan pemotongan kerbau atau babi.

Dalam pelaksanaan ritual tersebut, ada berbagai kegiatan budaya yang mengiringinya dan sangat unik. Diantaranya adalah budaya Makpasaliga Tedong (Adu Kerbau), acara ini sangat seru dan diminati banyak wisatawan. Budaya tari, yang menyuguhkan berbagai tarian tradisional. Dan budaya Maktinggoro Tedong (Pemotongan Kerbau). Cara pemotongan kerbau dalam prosesi ini juga sangat khas. Jika di dalam berbagai budaya, penyembelihan kerbau adalah dengan cara diikat kakinya, kemudian di tidurkan dan baru dipotong secara berlahan-lahan. Maktinggoro Tedong dilakukan dengan hanya menambatkan kerbau pada sebuah batu, dan disembelih dengan cara ditebas dengan parang atau golok, dengan satu kali tebasan pada lehernya.

Baca juga:  Malaysia Berupaya Mendongkrak Pariwisata Islam Pasca Covid-19

Upacara penting yang kedua adalah upacara adat Rambu Tuka’. Upacara ini lebih terkait dengan ungkapan rasa syukur, atau dalam beberapa tradisi lain di tanah air, upacara ini mungkin hampir senada dengan upacara syukuran. Tetapi sudah barang tentu caranya berbeda.

Upcara Rambu Tuka’ diadakan misalnya pada saat pernikahan, ketika hasil panen bagus, dan yang lainnya. Upacara diadakan dengan mengundang para kerabat, diiringi pula dengan berbagai hiburan seni tari.

Obyek Wisata Yang Lain.

Jika anda berkunjung ke pulau Bali, maka anda akan menjumpai banyak kuil atau bangunan yang arsitekturnya diinspirasi oleh bentuk kuil. Di Tana Toraja bentuk bangunanya juga sangat khas. Sepintas bangunan rumah masyarakat Toraja ada kemiripan dengan bentuk Rumah Gadang, tetapi detailnya sangat berbeda.

Tongkonan Rumah Adat Di Tana Toraja
Tongkonan – Rumah Adat di Tana Toraja

Dalam tradisi masyarakat toraja, bangunan ini disebut dengan Tongkonan. Anda akan selalu melihat tongkonan ini disepanjang jalan di kawasan Kabupaten Tana Toraja. Beberapa hotel terkenal yang ada dikawasan ini pun menggunakan bentuk tongkonan. Lumbung tempat persemayaman jenazah juga berbentuk tongkonan.

Dalam satu marga atau keluarga besar, biasanya mereka tinggal dalam satu kompleks. Tongkonan atau rumah tempat tinggal mereka biasanya berjajar dan berhadapan. Di tengah-tengah atau halamanya dipakai untuk aktifitas pengolahan hasil panen dan upacara-upacara adat ketika terjadi kematian maupun peristiwa syukuran.

Keberadaan rumah adat tongkonan juga menjadi ukuran derajat kebangsawanan. Hal ini terlihat dari beberapa aspek, mulai dari jumlah tongkonannya sendiri, semakin banyak jumlahnya, menunjukkan ketinggian status sosial-ekonominya, hiasan kepala kerbau yang di pasang di bagian depan tongkonan, hingga material atau kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan.

Pemakaman Kete Kesu Di Tana Toraja
Pemakaman Ke’te Kesu di Tana Toraja

Selain upacara adat dan bangunan tongkonan, ada banyak obyek wisata yang penting untuk dikunjungi, misalnya di kampung Kambira, disini ada tempat pemakaman bayi yang unik. Dahulu masyarakat Toraja memakamkan Bayi atau anak-anak dibawah usia 7 tahun yang meninggal diatas pohon. Pohon itu disebut pohon tarra, hingga saat ini pohonnya masih tegak dan anda bisa mengunjunginya.

Makam-makam di dinding batu. Ada banyak tempat pemakaman yang dapat anda kunjungi, diantaranya yang paling terkenal adalah kuburan di kawasan Ke’te Kesu. Anda dapat melihat tulang dan tengkorak manusia yang bertumpukan di dalam peti terbuka yang menempel di dinding-dinding batu. Panorama ini mungkin tidak indah, namun unik dan membantu kita untuk ingat mati atau zikrul maut.