Dinamika yang terjadi di Partai Demokrat sepenuhnya tanggungjawab AHY sebagai ketua umum, sepantasnya jika ia mengambil posisi terdepan. Jangan jutru malah merengek pada sang ayah, untuk menebar kembali mantera melankolismenya di hadapan publik. Zaman telah berubah, mantera lama telah kehilangan tuah.

Menanti Pembuktian AHY Sembari Ngopi
Foto oleh John Tuesday di Unsplash

Singkong goreng sepiring, sepanci kecil kacang rebus yang masih mengepul hangat, melengkapi segelas kopi kental pekat. Di antara angin malam dan hujan yang masih terus mengguyur kawasan Bogor dan sekitarnya. Lek-lekan malam ini aku coba lewatkan dengan menyaksikan riak drama politik yang masih menyajikan lakon KLB Partai Demokrat. Entah ini episode yang ke berapa.

Sebenarnya aku tak terlalu tertarik dengan drama politik. Lebih suka menyimak drama cinta dari daratan manapun. Tapi untuk melengkapi kahanan agar makin nikmat dalam menyesap kopi, aku ikuti juga drama politik yang samar-samar mengingatkanku pada sebuah lakon dalam cerita pewayangan. Bedanya, dalam cerita wayang, tokoh-tokohnya sudah terpetakan dengan jelas. Siapa Buto Cakilnya, siapa Dornanya, dan siapa pula para kesatrianya.

Dalam drama KLB Partai Demokrat ini, rakyat seperti aku justru kerap dibikin penasaran dan asyik nebak-nebak, siapa Cakil dan siapa kesatria. Sayangnya, tebak-tebakan itu tak pernah mudah. Dalam pewayangan jelas, ada pakem siapa tokoh antagonis dan siapa protagonisnya.

Di panggung pewayangan demokrasi Indonesia, pemetaan yang hitam putih dalam kategori antagonis dan protagonis sering susah dilakukan. Pada satu kasus, seorang tokoh politik mudah diidentifikasi oleh khalayak sebagai “Dorna” namun di kasus lain, tokoh ini bisa melambung namanya sebagai kesatria jujur dan pemberani.

Dalam suatu peristiwa seorang politisi terpental dari jabatan politiknya, karena publik mendapati bahwa sang figur adalah tipe Pendekar Pemetik Bunga (meminjam istilah Asmaraman S. Kho Ping Ho) yang suka menyengsarakan kaum perempuan. Namun di musim politik berikutnya, ia tetap mendapatkan dukungan luas dari masyarakat, karena jubah yang dikenakannya telah berganti.

Susah, penonton yang konservatif seperti diriku kerap kecele. Ending yang sulit diduga, plot yang penuh manuver. Sudah kadung benci terhadap satu figur, ternyata malah jadi pahlawan di akhir babak. Sebaliknya sudah terlanjur gandrung dengan tokoh yang lain, malah endingnya jadi pengkhianat. Jika drama politik di Indonesia ada sutradaranya, maka sang sutradara layak diganjar piala Oscar.

Sayangnya para sutradara politik ini termasuk kalangan para “Mukhlisin” orang-orang yang berupaya ikhlas dengan darma-baktinya. Cukuplah bagi mereka, jika racikan drama politik-nya dapat mengaduk-aduk perasaan para politisi, mengecoh para pengamat politik dan menina-bobokan rakyat banyak. Tak perlu piala Oscar, yang penting bisa menguasai dan mengontrol semua aktor pemegang Oscar!

Baca juga:  Islam Akan Menjadi Agama Mayoritas Di Eropa Pada Masa Yang Akan Datang

Kembali ke drama KLB Partai Demokrat. Sekedar sebagai penikmat kopi, bukan politisi ataupun pundit, bukan pula simpatisan apalagi anggota partai demokrat, tentu saya tak punya otoritas untuk menilai tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Apakah tindakan Pro-KLB sebagai etis atau tidak etis, gagasan ini tak berada dalam kewenangan untuk itu.

Hanya sebuah harapan, agar peristiwa KLB Demokrat tidak menjadi sekedar kekisruhan internal. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang sekedar ingin terjamin kenyamanannya dalam menikmati kopi untuk jangka yang lebih panjang lagi, saya menginginkan peristiwa ini menjadi dinamika yang positif. Bahkan menjadi investasi politik dan kepemimpinan bagi masa depan Bangsa Indonesia.

Tidak dalam rangka mendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang selama ini dianggap sebagai putera mahkota penerus kepemimpinan Partai Demokrat yang sah. Justru sebagai penonton yang menikmati dinamika ini sembari ngopi. Aku ingin melihat bukti klaim pendukung AHY, bahwa AHY adalah benar-benar pemimpin Partai Demokrat yang otentik dan pantas dibela.

Sebaliknya, jika AHY gagal membuktikan diri, maka tudingan kelompok Pro-KLB bahwa AHY adalah pemimpin karbitan yang naik ke jenjang kepemimpinan Partai Demokrat dengan modal settingan sang ayah, akan memiliki justifikasi. Jika AHY gagal membuktikan diri, maka makin benarlah kecemasan kelompok Pro-KLB yang tak ingin menyerahkan Partai Demokrat sebagai partai besar ke tangan anak domba yang lemah dan mudah diterkam harimau lain, di padang sabana politik Indonesia.

Sebagai bagian rakyat Indonesia yang berharap masa depan Indonesia makin makmur di tangan para pemimpin yang kuat, aku sungguh ingin melihat AHY mampu menjadikan dinamika ini sebagai kawah Candradimuka. Seperti Wisanggeni dalam kisah pewayangan yang dipaksa lahir sebelum waktunya dan kemudian dicemplungkan ke kawah gunung Jamurdipa agar mati hangus. Tetapi takdir bicara lain, jabang bayi itu justru tumbuh besar dan bangkit menjadi “Si Racun Api” yang mengobrak-abrik kemapanan Jonggring-Saloka, tempat Batara Guru bertahta dan skenario pembunuhan dirinya dirancang.

Tidak ada kesaktian kerabat kahyangan yang mampu mengendalikan amarah Wisanggeni. Betara Guru sebagai penguasa Jonggring-Saloka dibikin tak berdaya. Skenario melenyapkan Wisanggeni gagal total. Justru Batara Guru kemudian menginsyafi kesalahannya yang ikut cawe-cawe dalam membuat makar terhadap putera Arjuna itu.

Baca juga:  Revolusi Senyap Turki Mengganti WhatsApp Dengan Aplikasi Buatan Lokal

Aku sungguh ingin menikmati drama ini dan berharap AHY memiliki jiwa Wisanggeni. Sehingga drama KLB Partai Demokrat sebagai sebuah tontonan rakyat, menjadi lebih berbobot dan enak dinikmati, dalam arti tak sekedar menampilkan scene saling klaim, tuding, dan perdebatan semantik belaka yang mulai terasa landai sebagai sebuah tontonan.

Jiwa Wisanggeni yang aku maksud adalah kemampuan AHY untuk menjadi diri yang otentik dan gagah-berani dalam membela hak-hak politiknya. Tentu dengan membekal kesaktian ide, argumentasi, serta keberanian untuk tampil sebagai pemimpin muda yang brilian.

Dinamika yang terjadi di Partai Demokrat sepenuhnya tanggungjawab AHY sebagai ketua umum, sepantasnya jika ia mengambil posisi terdepan. Jangan jutru malah merengek pada sang ayah, untuk menebar kembali mantera melankolismenya di hadapan publik. Zaman telah berubah, mantera lama telah kehilangan tuah.

Para pemimpin besar lahir dari persoalan besar. Semakin besar masalah yang dihadapi dan berhasil dipecahkan, maka makin besar pula kapasitas kepemimpinannya. Akankah AHY mampu membuktikan dan dapat menjadikan dinamika di Partai Demokrat sebagai ajang menempa kesaktian untuk menjadi pemimpin besar? Mari kita tunggu dengan kembali mereguk kopi.

Jika pun harapan itu tak bisa diwujudkan oleh AHY, aku masih akan menyeduh kopi kembali dengan kelegaan sebagai penonton wayang, bahwa kesatria lemah memang tak layak untuk diwarisi Wahyu Keprabon. Ya, ini semua adalah momen pembuktian dan pagelaran untuk menyeleksi pemimpin yang berkualitas.

Sebagai penonton yang baik, mari kita melihat setiap kejadian secara dewasa. Jangan jadi suporter fanatik yang mudah berpihak dan menghujat. Kita lihat saja, panggung ini adalah panggung terbuka. Siapa yang lancung bakal terlihat jua. Siapa yang lemah bakal tersingkir juga. Penonton adalah tuan dari semua pertujukan, maka cerdaslah.

Seruputan terakhir, menyisakan endapan ampas kopi yang beranjak dingin. Tapi aku yakin drama KLB belum lagi akan mendingin, untuk membuktikan kepada para penonton siapa pahlawan dan siapa pecundang.