Selain OTG dalam makna kesehatan. Pandemi Covid 19 juga memunculkan jenis OTG lain yang menggerogoti mental-psikologis pengidapnya. OTG jenis ini juga berdimensi sosial, sehingga mampu mengubah status sosial sesorang.

Dari Orang Tanpa Guna Hingga Orang Tetap Gembira
Foto oleh Amin Moshrefi di Unsplash

Aslinya, istilah OTG sebagai mana dikenalkan oleh Gugus Tugas Penanggulangan Covid 19 merupakan singkatan dari “Orang Tanpa Gejala”. Artinya apa? Ada sejumlah orang yang sebenarnya telah terinfeksi oleh covid 19, namun karena sistem imunitas tubuhnya bagus, orang tersebut tidak mengalami gejala apapun yang biasanya menyertai orang yang terinfeksi covid 19. Sehingga orang dengan kasus seperti ini disebut sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG).

OTG Covid 19 berbahaya, karena orang yang terinfeksi tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi, maka ia akan berprilaku layaknya orang yang sehat dan bergaul rapat dengan keluarga dan kerabat dekatnya. Paling celaka, jika OTG terjadi pada orang yang tak patuh pada protokol penanganan Covid 19 sebagaimana dianjurkan dan diatur oleh pemerintah. Ia aktif bergerak ke manapun, tanpa pakai masker, tidak menjaga social distancing, tidak rajin mencuci tangan, dll. OTG seperti ini akan menjadi agen penyebaran Covid 19 yang efektif.

Maka sebaiknya semua pihak dapat menjaga protokol kesehatan sebagaimana dianjurkan. Kita tidak tahu, apakah kita OTG atau bukan. Jadi memakai masker misalnya, harus kita pahami sebagai adab untuk melindungi orang lain dari kemudharatan yang mungkin muncul dari diri kita. Jangan dipahami sebaliknya, bahwa memakai masker adalah untuk melindungi diri kita dari virus yang ditularkan oleh orang lain.

Mungkin banyak diantara kita yang bersikap pasrah dan “istiqomah” dengan apa yang akan terjadi. Toh faktanya hingga hari ini tetap sehat-sehat saja meski tidak memakai masker atau mematuhi aturan-aturan lainnya. Mungkin tubuh kita memang sehat, tapi belum tentu hal tersebut bermakna bahwa kita tidak terinfeksi. Bisa jadi kita sebenarnya telah terinfeksi, namun karena berbagai faktor, virus tersebut tak mampu melemahkan tubuh kita, sehingga kita tidak merasakan dampak apapun. Inilah OTG dalam aspek medis yang secara langsung terkait dengan menularan Covid 19.

Kita tidak akan membahas tentang OTG dalam konteks medis dan klinis. Sudah cukup banyak artikel dan berita yang mengupas masalah ini secara panjang lebar. Kali ini Al Basir akan sharing terkait dampak Covid 19 secara psikologis dan sosial yang banyak di temui di tengah masyarakat, gejalanya kami istilahkan juga dengan akronim OTG, tentu kepanjangannya berbeda dengan OTG Covid 19 secara medis dan klinis.

OTG Sosial dan Psikologis di Sekitar Kita

Sama-sama diakibatkan oleh adanya pandemi Covid 19, meski secara langsung, tidak mengancam keselamatan jiwa dari sisi kesehatan, OTG dalam dimensi sosial dan psikologis, juga tak kalah mengerikannya. Berikut beberapa OTG dalam dimensi sosial-psikologis yang mulai meng gejala luas di tengah masyarakat kita.

Baca juga:  Diantara Cara Mencegah Terjadinya Bencana

Pertama, OTG (Orang Tanpa Guna). Ini adalah jenis OTG mental-psikologis yang berisi orang-orang yang memilih berputus asa dalam menghadapi dampak pandemi. Mungkin pandemi telah memporak-porandakan bisnis, karir, atau rumah tangganya. Sehingga ia mengalami kejatuhan yang parah dan menyakitkan hati.

Bukannya bangkit berinovasi, Orang-orang ini justru frustasi dan sibuk menyalahkan keadaan. Tidak mau bangkit untu cari usaha yang lain, malah menenggelamkan diri dalam alkohol dan tidur sepanjang hari. Sebagai ekspresi dari keputus-asaan yang dialaminya.

Kondisinya akan makin buruk dan menjadi beban orang lain. Ia telah berputus asa dan marah pada situasi. Kemarahan yang menenggelamkan ide-ide kreatif dan semangat untuk membangun kembali kebahagiaan hidup. Berputus asa hanya akan membuat kita menjadi “Orang Tanpa Guna” Yang akan mudah tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan irasional dan destruktif.

Kedua, OTG (Orang Tanpa Gaji). Tadinya mungkin ia karyawan suatu perusahaan yang dapat gaji rutin bulanan. Karena tempat kerjanya bangkrut akibat pandemi, karyawannya banyak mengalami pemutusan hak kerja. Jadilah mereka ini mantan karyawan tanpa pensiunan.

Statusnya berubah, dari karyawan yang digaji menjadi “Orang Tanpa Gaji”. Ada yang seperti layang-lagang putus dan memilih frustasi sehingga dia akan menyandang predikat OTG pertama di atas. Tapi ada pula yang optimis. Mereka berprinsip bahwa kehidupan masih terus memberikan peluang. Semuanya tergantung pada diri sendiri. Tidak mengapa tidak lagi memiliki gaji tetap, yang penting tetap berpendapatan! Mereka kembali sibuk berkarya dan tak menyerah pada kehidupan.

Ketiga, OTG (Orang Tanpa Gelar). Terjadi pada mahasiswa tingkat akhir. Tadinya berencana, 2020 ikut wisuda dan memperoleh gelar sarjana. Namun apa daya, penelitian untuk tugas akhirnya gagal. Social distancing yang ketat membuat ia sendiri ragu untuk bertemu dan mengumpulkan orang. Walhasil, rencana penelitian belum bisa dilaksanakan secara tuntas dan tugas akhir tak bisa diselesaikan.

Target untuk diwisuda dan menyandang gelar sarjana pun urung. Hingga di awal tahun 2021 ini statusnya masih Orang Tanpa Gelar akademik.

Orang Tanpa Gelar juga bisa menimpa atau terjadi pada mereka yang dalam karirnya selama ini memiliki jabatan atau pangkat tertentu. Karena perusahaan harus melakukan “perampingan” akibat pandemi, banyak orang yang terpental dari jabatannya, maka hilanglah gelar yang lekat dengan jabatannya tersebut; Pak Direktur, Pak Komisaris, Pak Manajer, dll.

Ke-empat, OTG (Orang Tanpa Gadget). Pusing saban hari disuguhi angka-angka statistik kematian akibat virus corona melalui berita di gadgetnya. Di media sosial dan terutama grup-grup medsos yang diikuti setiap saat juga mengabarkan kematian, orang terinfeksi dan Kabar-kabar yang lain, semuanya terasa menyeramkan. Membuat stres dan depresi.

Baca juga:  Kita Ini Membanggakan Apa?

Mereka berpikir berita-berita itulah yang membuat pusing dan depresi. Akhirnya mereka memilih mengambil sikap “Ingkar berita”. Salah satu cara efektif untuk menjauhkan diri dari berita di era informasi ini adalah dengan tidak memegang gadget. Jadilah mereka Orang Tanpa Gadget, yang masih tetap pusing juga saat tengah malam anak belum pulang dan tidak bisa menghubungi nya dengan gadget!

Saran penting bagi yang mengidap empat karakter OTG di atas, jangan sampai OTG mental-sosial yang diidap mengalami kombinasi dengan OTG medis (Orang Tanpa Gejala). Bisa fatal bagi diri dan orang lain!

OTG Positif

Tidak semua OTG mental-psikologis yang menggejala di masyarakat berkonotasi negatif. Ada pula jenis OTG lain yang terlihat muncul dalam perilaku masyarakat selama pandemi berlangsung. OTG ini pantas ditiru dan disebarluaskan kepada banyak pihak.

OTG dimaksud adalah “Orang Tetap Gembira”. Meski pandemi telah membuat hidupnya serba tidak nyaman, orang tipe ini tetap memiliki hati yang gembira dan optimis. Ia pintar bersyukur, di antara tujuh puluh juta lebih penduduk dunia yang terinfeksi Covid 19, ia tidak termasuk di dalamnya. Masih sehat dan masih bisa berbuat yang terbaik untuk mengisi anugerah kehidupan ini dengan cara terbaik. Sebagai ekspresi rasa syukur.

Orang-orang seperti ini terlihat rajin berbagi optimisme dan kebaikan. Tak mau melewatkan momen untuk berbagi dengan apapun yang ia punya dan bermanfaat bagi orang. Sifat gembira adalah pancaran kebahagiaan dan rasa syukur yang menjadi kunci bagi munculnya kegembiraan yang murni. Ia bergantung semata-mata pada kuasa Allah, bukan pada perusahaan atau ikatan-ikatan hidup yang lain.

Mereka seperti yang digambarkan oleh Allah dalam surat Luqman ayat 22: “Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”

Mereka begitu yakin bahwa kehidupan ini ada yang mengatur. Kewajibannya hanyalah menjalankan syariat. Prinsip-prinsip kesehatan sebagaimana dianjurkan oleh para ahli ia jalankan dengan sebaiknya. Selebihnya kemudian tetap menjalani hidup dengan syukur dan optimis. Kewajiban-kewajiban hidup seperti beribadah dan mencari nafkah ia jalankan sebagaimana biasa tentu dengan berbagai penyesuaian atas kondisi yang ada. Nah, bagusnya pengidap OTG nomor satu sampai empat di atas, mengkombinasi OTG mental-psikologis yang diidapnya dengan OTG yang positif ini. Agar kehidupan berangsur membaik dan siap menghadapi tantangan hidup dengan semanagat, kerja keras, dan senantiasa berharap pada Allah SWT.

Jadi anda termasuk OTG yang mana?