Siklus kehidupan kerap membawa kita dari sepi menuju pada keramaian. Pada saatnya nanti, dari puncak keramaian itu, kita akan terlempar kembali ke wilayah sepi.

Pelajaran Sepi Dari Tepian Senggigi
Ilustrasi, Al Basir – Pelajaran Sepi Dari Tepian Senggigi

Beberapa waktu lalu, penulis mendapat penugasan kerja ke Lombok Barat. Ini kunjungan yang keempat kalinya ke Kota Lombok. Berbeda dari kunjungan sebelumnya, perjalanan ke-empat ini memang lebih repot jika dibandingkan dengan tiga kunjungan sebelumnya. Pandemi Covid-19 dan prosedur kesehatan dalam rangka penanggulangan penularan virus Covid-19, memunculkan sejumlah keribetan yang tak biasa dan harus dilakoni oleh para musafir, baik dalam rangka melancong maupun dinas.

Ribet tapi harus. Demi menjaga kesehatan semua pihak. Lebih baik ribet di awal daripada tidak sehat kemudian. Pandemi ini memang luarbiasa. Mengubah banyak hal dan mampu memaksakan berbagai keharusan baru dalam tempo yang sesingkat singkatnya.

Mungkin suatu kebetulan belaka, jika sesampai di Lombok kami diinapkan di hotel yang persis berada di tepian pantai Senggigi. Pantai ikonik yang menjadi syaraf penting bagi pariwisata di Lombok Barat.

Sekedar mengenang beberapa kunjungan sebelumnya, penulis menyempatkan jalan-jalan di sepanjang pinggiran Pantai Senggigi. Ada begitu banyak perbedaan yang terasa, jika membandingkan kunjungan kali ini dengan kunjungan sebelumnya.

Aspek paling mencolok dari perbedaan itu adalah pada keramaian. Senggigi di masa pandemi seperti menggigil dalam sepi. Tak ada keramaian dan lalu lalang wisatawan mancanegara maupun turis lokal. Hanya terlihat beberapa pedagang yang nekat berjualan souvenir, meski tahu kawasan Senggigi sedang sepi pengunjung.

Bagi yang sedang mencari hiburan, situasi ini tentu tidak menyenangkan. Melihat keindahan laut semata-mata bukanlah hiburan yang menarik. Pelancong mampir ke Senggigi memang tak sekedar untuk melihat pemandangan pantai.

Baca juga:  Manila Akan Mendeklarasikan 1 Februari Sebagai Hari Hijab Nasional

Ombak pantai Senggigi tak sekedar menarik untuk dilihat. Tapi menantang untuk dinikmati dengan berselancar, memecah ombak dengan speedboat, mungkin anak-anak juga tergoda untuk menjajal Banana boat ramai-ramai.

Selebihnya, para pengunjung yang mengunjungi Senggigi dengan motif liburan dan mencari hiburan akan menikmati keramaian yang biasanya tersuguh di kawasan ini. Dari berbagai hiburan jalanan, pernik barang merchandise khas Lombok, hingga aneka jenis kuliner akan memanjakan anda dengan berbagai kegembiraan duniawi yang sungguh amat menghibur.

Bahkan pelancong modal cekak tetap bisa mengunduh berbagai kegembiraan gratis dengan nimbrung di area pantai. Setidaknya kebutuhan untuk melihat dan dilihat oleh orang lain dapat di lampiaskan di sini. Kebutuhan untuk melihat dan dilihat oleh sesama spesiesnya adalah kebutuhan dasar yang menjadi salah satu ciri khas ras manusia. Hasrat ini menjadi dasar penting bagi perkembangan seni-budaya pertunjukan dalam tradisi manusia.

Dalam situasi pandemi saat ini, berkunjung ke Senggigi dalam kepentingan itu, mungkin bukan waktu yang tepat. Senggigi hanya akan menyambut anda dengan landscape lautan, pasir pantai dan tentu saja deru ombaknya yang terdengar nyaring dalam kesunyian yang alami.

Namun bagi para pencari ketenangan batin dan hakekat hidup, situasi Senggigi yang sedang jauh dari hingar-bingar kesenangan duniawi, mungkin akan jadi momen tepat untuk melakukan kontemplasi dalam naungan alam yang indah murni.

Keriuhan yang ditelan oleh sepi memang lebih terasa menghadirkan senyap. Kita jadi bisa mengingat tentang segala sesuatu yang biasanya ada, namun sirna. Ingatan itu bisa membantu untuk mencerna, menilai, dan melihat ulang segala sesuatunya secara lebih objektif. Untuk apa itu semua ada? Mungkin pertanyaan sederhana yang patut diajukan pada diri sendiri.

Baca juga:  Satu Tahun Covid-19 Makin Cerdaskah Batin Kita?

Siklus kehidupan kerap membawa kita dari sepi menuju pada keramaian. Pada saatnya nanti, dari puncak keramaian itu, kita akan terlempar kembali ke wilayah sepi. Hal yang sama terlihat pada debur ombak di pantai. Dari tepian merapat ke tengah, bergumul sesaat dalam gelombang lalu pecah, bepencar dan kembali ke tepian.

Sedang di tengah, sedang ramai, mungkin sama dengan siklus hidup kita yang tengah berada di puncak ketenaran, karir dan popularitas. Maka penting kita ingat, bahwa ramai, puncak, popularitas, tidak berjalan lama. Hanya satu gulungan ombak, lalu kita terlempar kembali ke tepian dan sepi.

Orang umumnya mengejar keramaian, popularitas dan kejayaan, hal yang sungguh manusiawi. Masalahnya, manusia kerap menolak kenyataan bahwa sepi adalah saudara kandung dari keramaian. Adakah makna keramaian jika sepi tak pernah menghampiri?

Pantai Senggigi yang lagi sepi dalam beberapa waktu ke depan akan ramai kembali. Suatu saat nanti ia akan kembali sepi untuk selamanya. Begitupun kita, akan berakhir dalam urugan sepi. Sebelum sampai pada kesunyian panjang, mari kita maknai sepi di masa pandemi ini untuk muhasabah, reorientasi, dan menatap kembali kehidupan dalam cara pandang yang lebih seimbang, diantara sunyi dan keriuhan.