Program mengembangkan kemandirian desa tetap menjadi prioritas penting karena desa masih bergelut dengan masalah kemiskinan, keterbatasan sarana dan prasarana dasar, serta kelangkaan kelembagaan ekonomi dan sosial.

Pentingnya Mengembangkan Kemandirian Desa Tetap Menjadi Prioritas
Foto oleh Jason Ortego di Unsplash

Barangkali Tukul Arwana tidak menyadari bahwa ungkapannya: “wajah ndeso, penghasilan kota” merupakan ungkapan yang mudah dan tepat untuk menggambarkan kesenjangan antara desa dengan kota. Desa melalui personifikasi wajahnya tergambarkan sebagai sesuatu yang serba tidak indah, memelas, dan pas-pasan. Sementara kota lewat perumpamaan penghasilannya yang konon mencapai puluhan juta rupiah tercitrakan sebagai tempat yang menyenangkan, makmur, dan sejahtera. Persepsi dalam benak kita mengenai desa dan kota tersebut masih cukup valid untuk “dipertahankan”, mengingat masih jauhnya kesenjangan kehidupan di desa dengan di kota saat ini.

Program mengembangkan kemandirian desa tetap menjadi prioritas penting karena desa masih bergelut dengan masalah kemiskinan, keterbatasan sarana dan prasarana dasar, serta kelangkaan kelembagaan ekonomi dan sosial. Kondisi ini tidak lepas dari beragam masalah dan kendala yang dihadapi masyarakat di pedesaaan, seperti: masih rendahnya pendidikan masyarakat desa, sulitnya akses terhadap permodalan, rendahnya nilai tambah dari usaha pertanian, rendahnya tingkat penguasaan lahan pertanian oleh rumah tangga petani, tingginya ketergantungan terhadap kegiatan budidaya pertanian, dan lemahnya keterkaitan ekonomi antara sektor pertanian dengan sektor industri dan jasa, dan sebagainya.

Dalam aspek-aspek tersebut, masih terlihat perbedaan yang mencolok antara desa dengan kota. Kota sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, sudah memiliki modal dasar berupa kelengkapan sarana dasar, prasarana distribusi komoditi dan energi, sarana industri dan perdagangan, serta lembaga pendidikan.

Baca juga:  Presiden Joko Widodo Resmikan Selesainya Renovasi Besar Masjid Istiqlal

Kesenjangan kondisi desa dan kota menjadi pendorong utama tingginya angka urbanisasi. Perpindahan penduduk usia produktif dari desa ke kota ini menimbulkan komplikasi baru yang mengakibatkan masalah bagi desa yang ditinggalkan maupun bagi kota yang dituju kaum urban. Bagi desa yang ditinggalkan kaum urban, berkurangnya tenaga usia produktif akan semakin memperlemah dinamika ekonomi dan sosial di desa. Bagi kota yang menjadi tujuan ubanisasi, kedatangan kaum urban yang sering tidak mempunyai bekal pendidikan dan keahlian yang memadai malah menimbulkan masalah sosial baru di kota.

Gejolak perekonomian akibat krisis keuangan global yang tengah terjadi saat ini ditengarai akan semakin meningkatkan arus urbanisasi. Tingginya harga kebutuhan pokok, mendorong warga desa mencoba peruntungan mencari sumber penghidupan yang dianggap lebih layak di kota. Sulitnya mencari pekerjaan formal akan mendorong perpindahan tenaga kerja di sektor-sektor informal yang menjanjikan di kota-kota besar. Melemahnya permintaan terhadap komoditas kerajinan dan industri kecil yang selama ini banyak menopang kehidupan ekonomi di pedesaan juga akan mendorong terjadinya urbanisasi.

Jika diselami lebih dalam, tingginya urbanisasi selain merupakan dampak ketidakmampuan desa dalam memfasilitasi warganya untuk meningkatkan taraf hidup, juga karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan dari warga desa itu sendiri dalam mengoptimalkan potensi yang ada di sekitar mereka untuk meningkatkan derajat ekonomi dan sosial mereka. Berkaca pada situasi di atas, pembangunan pedesaan hendaknya diarahkan pada upaya untuk mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan.

Baca juga:  OTG di Sekitar Kita: Dari Orang Tanpa Guna Hingga Orang Tetap Gembira

Pembangunan pedesaan merupakan proses pengembangan kemandirian. Pengembangan kemandirian desa akan dapat meningkatkan pendapatan. Dari peningkatan pendapatan akan dapat menciptakan kesejakteraan keluarga dalam upaya menghindari masyarakat pedesaan dari himpitan kemiskinan akan terentaskan.

Dari sini terlihat bahwa ada hakekatnya pembangunan pedesaan lebih mengarah pada proses pengembangan kemandirian warganya, tidak melulu pembangunan yang bersifat fisik. Pengembangan kemandirian warga desa akan mendorong terciptanya peningkatan kapasitas, daya inovasi, dan kreatifitas masyarakat desa untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup mereka. Oleh karena itu, berbagai program pembangunan masyarakat di pedesaan hendaknya disusun dengan paradigma seperti ini, agar kegagalan yang terjadi dalam pendekatan program-program sebelumnya tidak terulang kembali.