Siapa yang tidak kenal Turki? Sebuah negeri yang kaya dengan sejarah dan warisan budaya. Di kawasan ini pernah muncul peradaban-peradaban besar dunia yang menorehkan peran penting bagi perkembangan kebudayaan manusia setelahnya.

Photo by Svetlana Gumerova on Unsplash

Tidak hanya warisan budaya dan sejarahnya yang agung, Turki juga dianugerahi dengan gambaran alam yang sungguh sangat menawan, anda pasti akan berdecak kagum melihat kemolekan alam Turki.

Siapa yang tidak kenal Turki? Sebuah negeri yang kaya dengan sejarah dan warisan budaya. Di kawasan ini pernah muncul peradaban-peradaban besar dunia yang menorehkan peran penting bagi perkembangan kebudayaan manusia setelahnya. Tidak hanya warisan budaya dan sejarahnya yang agung, Turki juga dianugerahi dengan gambaran alam yang sungguh sangat menawan, anda pasti akan berdecak kagum melihat kemolekan alam Turki.

Turki terletak di kawasan mediteranian Timur. Dari segi posisi geografis dan batas teri-torinya pun Turki sudah memiliki keistimewaan. Area negara ini terhampar di antara dua benua, yakni benua Asia dan Eropa. Total luas wilayahnya kurang lebih 814 589 km persegi. Sebahagian besar dari kawasan itu memang masuk benua Asia, yang diperkirakan mencapai 97 % dari total luas wilayah Turki. Selebihnya berada di benua Eropa.

Wajar saja jika kemudian Turki memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Posisinya yang strategis itu memang telah lama menjadi ajang interaksi berbagai budaya besar yang melibatkan dua benua. Sehingga meninggalkan jejak sejarah-kebudayaan dari interaksi tersebut menjadi sesuatu yang serba unik dan beragam.

Penduduk negara Turki diperkirakan mencapai kurang lebih 68 juta orang. Mereka tersebar di dalam 81 provinsi dan memadati sejumlah kota terkenal di negara itu, seperti Istambul yang dahulu dikenal sebagai Konstantinopel, kota ini merupakan kota terpadat di Turki. Kota Ankara, yang merupakan Ibu kota negara Turki, kota Izmir dan lain-lain.

Warisan Sejarah

Kejayaan dan kebesaran peradaban Turki masih dapat kita saksikan jejaknya melalui berbagai kota dan bangunan yang masih tersisa dari masa lalu. Kota Istambul misal, mencoba memahaminya saja telah membawa kita pada kemegahan masa lalu yang akan mengayakan khazanah batin dan pemikiran. Kota ini dahulunya disebut sebagai Konstantinopel didirikan oleh kaisar Romawi pada zaman itu, yakni kaisar Konstantin.

Mengunjungi Istambul ada beberapa bangunan lama yang nampaknya harus dikunjungi. Yang pertama adalah Museum Haghia Sophia. Awalnya bangunan ini sesungguhnya merupakan Gereja tempat umat Kristiani menjalankan peribadatan. Dibangun pada masa Kaisar Konstantius, anak dari Kaisar Konstatin. Dinding dan bagian atas bangunan ini pada awalnya penuh dengan ornamen dan lukisan sakral umat kristiani.

Baca juga:  Arif Jamali Muis: Warga Persyarikatan Muhammadiyah Jangan Takut Divaksin

Ketika Konstantinopel jatuh dalam kekuasaan Turki Utsmani, pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II, Haghia Sophia dialih fungsikan menjadi Masjid. Masjid ini kemudian dikenal dengan sebutan masjid Aya Shopia. Berbagai ornamen yang dahulu menghiasi dinding-dinding gereja, kemudian dihapus dan digantikan dengan ornamen kaligrafi.

Pada masa awal Turki modern hingga tahun 2020, fungsi Haghia Shopia pun kembali mengalami perubahan. Adalah Bapak Turki modern Mustofa Kemal Attaturk yang kemudian berinisiatif mengalih fungsikan Masjid tersebut menjadi Museum. Kaligrafi Islam yang menempel di dinding bangunan tersebut diperintahkan untuk dikelupas, sehingga ornamen asli warisan Gereja Romawi muncul kembali. Sejarah selanjutnya dari kisah masjid yang luar biasa inipun kita semua tahu. Bulan Juli lalu Perdana Menteri Reccep Tayyib Erdogan telah mengalihkan kembali fungsi Haghia Sophia dari museum menjadi masjid kembali.

Bangunan ini sungguh berharga. Bukan saja karena sejarahnya yang panjang dan kaya dengan hikamah kehidupan, tapi secara arsitektur, bangunan ini juga langka. Bayangkan saja, bangunan ini adalah rancangan dari arsitektur zaman kekaisaran Romawi, meski peradaban setelahnya menambahkan dan merubah beberapa karakteristik bangunan, namun pendirian bangunan ini sepenuhnya rancangan dan inisiatif kekaisaran Romawi. Disinilah bangunan itu terasa bermakna lebih dari sekedar keberadaan materialnya, ia adalah saksi sekaligus penghubung antara manusia modern zaman kita ini dengan masa lalunya.

Jika anda telah puas mengagumi koleksi musium dan ornamen Haghia Sophia, maka tinggal sedikit menyeberang, kurang lebih seratus meter dari Haghia Sophia anda akan ketemu bangunan bersejarah yang cantik rupawan dan hingga kini masih fungsional. Itu lah Blue Mosque. Bangunan ini memang sebuah masjid yang hingga kini masih difungsikan untuk beribadah. Anda dari keyakinan agama apa pun bebas menikmati keindahan ornamen dan keramik biru Iznik yang menghiasi dekorasi masjid itu. Dominasi keramik biru Iznik yang mempesona ini lah yang membuat masjid ini disebut sebagai blue mosque.

Sejarah Masjid ini pun tidak kalah menariknya. Ia pertama kali dibangun pada zaman Kesultanan Ahmed I sekitar tahun 1616. Masjid dengan arsitektur yang sangat menawan ini konon katanya memang dimaksudkan untuk menyaingi kemegahan Haghia Sophia. Kemegahan masa lalu, keramik biru Iznik, dan bangunannya yang terdiri atas enam menara, sungguh perpaduan keindahan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Pesona Ephesus

Tempat lain yang wajib dikunjungi jika jalan-jalan ke Turki adalah sebuah kota yang tidak terlalu besar bahkan cenderung kecil, namun menyimpan misteri dan pesona masa lalu yang sugguh besar dan tidak ternilai. Kota ini berada di tepi pantai barat Turki. Jejak peraban besar pada masa lalu seakan berserak di kota kecil ini.

Baca juga:  Fungsi Bermain Dalam Fase Tumbuh Kembang Anak

Umat Kristiani dan Umat Muslim pun memiliki ‘jejak’ spiritual di kawasan ini. Dalam Bible kota ini disebut sebagai Efes. Di kawasan ini juga terdapat sebuah gua yang diyakini sebagai gua yang menjadi tempat persembunyian tujuh pemuda beriman yang dalam litaratur Islam disebut sebagai ashabul-kahfi.

Bangunan kuno terbesar yang sangat dikagumi di kawasan ini adalah teater Odeon. Ada dua buah teater yang ada di Ephesus ini. Bekas kemegahan dari teater tersebut masih dapat kita lihat dari situs bangunan yang masih tersisa. Dinding dan alas bangunan yang masih nampak tegar seakan menjadi saksi kegagahan para gladiator dan menyimpan baik-baik darah mereka pada setiap dinding dan lantainya. Pada zaman kejayaan Romawi, teater ini memang menjadi tempat adu gladiator yang menjadi tontonan paling menarik pada masa itu. Rakyat dari berbagai kelas sosial hingga para pengusa tumplek di teater itu untuk menyaksikan pertarungan berdarah.

Selain teater, anda juga bisa melihat reruntuhan bangunan penduduk, puing-puing perpustakaan Celcus, kuil Artemis dan lain-lain. Ephesus atau Efes akan banyak meberikan pemahaman tentang masa lalu. Jika anda berkunjung kesana, cobalah untuk tidak sekedar melihat, mungkin anda perlu mencoba membangun ‘dialog’ dengan masa lalu itu.

Turki masih banyak lagi menyisakan pesona dan keunikan. Masih ada selat Bosphorus yang membelah dua benua. Ada ‘Hot Baloon’ yang akan mengantarkan anda melayang dikawasan bukit-bukit batu yang sungguh memesona. Ada kebab Turki yang akan memanjakan lidah para wisatawan dan kerajinan karpet yang siap anda gulung sebagai oleh-oleh.

Bagi anda para aktivis dakwah melancong ke Turki sebaiknya diagendakan dengan serius mungkin perlu anda masukkan dalam paket umroh. Bukan apa-apa, negara ini adalah simpul sejarah yang penting dalam memahami peradaban Islam di masa lalu, pertengahan, dan masa depan. Apalagi hari ini, bangkitnya partai-partai Islam di Turki turut membangun optimisme tampilnya kembali kejayaan Islam di pentas dunia.

Wallahu alam.