Nilai kepahlawanan adalah kristal bening yang mestinya mengendap di dasar sanubari pada setiap peringatan Hari Pahlawan. Tapi apa lacur, alih-alih mengkristalkan nilai kepahlawanan, peringatan Hari Pahlawan bahkan tak membuat kita lebih apresiatif terhadap nilai-nilai kepahlawanan.

Rindu Ketulusan Di Peringatan Hari Pahlawan
Foto oleh Dikaseva di Unsplash

Baru saja kita melewati peringatan Hari Pahlawan 10 November 2021. Lalu apa yang tersisa dari peringatan itu? Hanya setumpuk ucapan selamat Hari Pahlawan yang jejaknya bisa kita gulir dari gadget. Ada untaian doa, ucapan selamat, ada kutipan ucapan para pahlawan, tentu dalam berbagai format digital yang serba meriah, puitis, warna-warni dan tak ketinggalan ajakan untuk bersyukur dan merenung.

Setelah itu, berbagai tumpukan pesan lain bermunculan di gadget. Alhasil, pesan-pesan Hari Pahlawan dengan sangat cepat tertimbun oleh pesan lain. Seperti momen-momen penting lainnya, semuanya terlewati hanya dalam bentuk tulisan, video, pamflet, meme, dan lain sebagainya. Setelah itu teronggok dalam folder memori gadget.

Lantas, untuk meringankan beban memori gadget, dalam beberapa minggu kemudian, aneka pesan itu harus dihapus, agar tidak mengganggu kinerja gadget yang cepat mengalami ketersendatan akibat penuhnya memori dengan aneka pesan tersebut. Termasuk pesan-pesan indah di Hari Pahlawan itu, pada akhirnya lenyap tanpa bekas.

Ya, seperti itulah nasib pesan, seruan, himbauan moral, di era gadget hari ini. Sekedar memunculkan kreatifitas untuk membuat sebuah pesan agar indah dan mudah dinikmati. Memacu orang untuk ikut rajin share sehingga beberapa pesan menjadi viral. Lalu pesan-pesan itu akan hilang begitu saja dalam hitungan hari.

Untuk kepentingan teknis, tak mengapa jika pesan-pesan itu harus kita hapus. Masalahnya, banyak pesan di Hari Pahlawan kemarin yang bahkan tak berjejak sama-sekali di hati dan pikiran kita. Jejak digital telah dihapus, tak terekam pula di memori ingatan dan sanubari kita masing-masing. Pesan kepahlawanan itu pun berlalu, seperti debu halus yang terbang entah kemana dihembus tiupan angin tengah hari.

Baca juga:  Menjelajahi Hutan Lumut Di Gunung Slamet

Memperingati Hari Pahlawan dan hari besar yang lainnya sesungguhnya memiliki tujuan yang sangat agung. Peringatan Hari Pahlawan misalnya, tujuan utamanya adalah demi mengingat jasa, perjuangan, dan keteladanan para pahlawan. Agar generasi Indonesia paham bahwa kemerdekaan ditebus dengan pengorbanan dan perjuangan yang taruhannya nyawa. Agar generasi Indonesia paham untuk mewarisi nilai-nilai kepahlawanan, semangat berkorban, dan sikap mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga dan golongan.

Nilai kepahlawanan adalah kristal bening yang mestinya mengendap di dasar sanubari dari setiap peringatan Hari Pahlawan yang kita lakukan. Tapi apa lacur, alih-alih mengkristalkan nilai kepahlawanan, peringatan Hari Pahlawan bahkan tak membuat kita lebih apresiatif terhadap nilai-nilai kepahlawanan.

Pamrih politik, materi, ketenaran, subscriber, followers dan seterusnya, lebih menjadi penggerak dasar perilaku hidup kita hari ini, daripada nilai-nilai kepahlawanan yang sejati. Banyak kita saksikan dalam beberapa tahun terakhir, nilai kepahlawanan semacam pengorbanan dan kesediaan untuk membantu pihak lain telah dijadikan komoditas setingan dalam rangka mendulang subscriber. Bantuan sosial dan santunan kemanusiaan kerap dieksploitasi untuk mengeruk dukungan politik serta iklan bagi para politisi dan youtuber.

Para politisi dan pejabat yang diberi amanah mengurus tanah air warisan para pahlawan telah terputus dari visi kepahlawanan para founding father. Mereka berbuat bukan lagi dalam kerangka kemakmuran bersama, tetapi lebih sering diniati untuk investasi politik dan upaya pelanggengan jabatan kekuasaan. Sumbangannya kecil, tapi baliho poster diri-nya besar-besar, agar masyarakat yang dibantu membalas budi dan mengingat dirinya saat musim coblosan tiba.

Baca juga:  Peran Politik Kaum Terdidik Masa Pra-Kemerdekaan

Di pertengahan bulan pahlawan ini, diam-diam kita rindu pada ketulusan. Seperti dahulu para tetangga yang tanpa pamrih membantu tetangga yang lainya untuk saling meringankan beban dalam semangat gotong-royong tanpa berharap imbal jasa, khas Indonesia dan warisan asli para pahlawan kemerdekaan. Di tengah peringatan hari pahlawan ini pula, kita jerih membayangkan hilangnya ketulusan. Betapa massif-nya seruan untuk mabuk pujian dan pamrih-pamrih, bahkan tanpa beban melakukan eksploitasi nilai kepahlawanan untuk sekedar menjadi tontonan demi mengundang viewer untuk berkerumun yang berujung pada kenaikan pendapatan.

Nilai-nilai kepahlawanan begitu banyak. Ketulusan adalah salah satunya. Mungkinkah, setidaknya kita mampu menyemai kembali benih ketulusan di ladang batin kita masing-masing, di tengah kencangnya badai pamrih yang saban detik menimpa kehidupan kita hari ini?

Jika kita semua rindu ketulusan, jangan pernah berharap ketulusan dari orang lain. Karena kemarau ketulusan itu melanda pula hati saudara kita. Tapi, mari bersama-sama kita budidayakan lagi, butir-butir ketulusan yang masih tersisa di hati, agar menjadi rerimbunan taman, yang menebarkan kembali aroma wangi ketulusan. Mungkinkah?