Mendapat predikat program Corporate Social Responsibility terbaik oleh forum ISDA (Indonesian Sustainable Development Goals Award) untuk kategori SDGs 4 atau pendidikan permutu, selama tiga tahun berturut-turut 2017 – 2019 Program Rumah Belajar JICT layak dijadikan sebagai referensi penting pengembangan pendidikan alternatif dalam penanganan anak putus sekolah.

Kabar Gembira Bagi Yang Putus Sekolah
Para Murid – Rumah Belajar JICT

Untuk masyarakat Kecamatan Koja, Cilincing dan Tanjung Priok, nama Jakarta International Container Terminal tentu tidak asing sama-sekali bagi. Umumnya mereka kenal nama JICT bukan karena bisnis perusahaan ini. JICT sebagai terminal petikemas terbesar di Indonesia sudah barang tentu usahanya tidak bersentuhan secara langsung dengan keseharian warga Koja, Cilincing dan Tanjung Priok. Masyarakat di tiga kecamatan tersebut akrab dengan JICT karena program Corporate Social Responsibility yang dikembangkan oleh JICT.

Program CSR JICT memang diarahkan untuk menyentuh secara langsung persoalan di tingkat akar rumput yang terjadi di tengah masyarakat Tanjung Priok, tempat dimana JICT berkantor dan mengendalikan perusahaan. Bapak Mustaqim, dari corporate affair JICT menegaskan bahwa program CSR JICT dikembangkan berbasis pada kebutuhan riil masyarakat dengan target utama membangun kesadaran dan keberdayaan masyarakat.

Ada banyak bidang yang disentuh oleh program CSR JICT. Diantaranya; Bidang Kesehatan, Seni-budaya, Lingkungan, Dan Pendidikan. Diantara bidang-bidang itu, bidang pendidikanlah yang memiliki varian program paling banyak.

Salah satu program CSR JICT di bidang pendidikan yang kemudian menjadi sangat ikonik adalah Program Rumah Belajar JICT. Program ini berhasil menyabet predikat program CSR terbaik dalam kategori pendidikan bermutu selama tiga tahun berturut-turut dari tahun 2017 – 2019. Mungkin jika tak ada pandemi dan forum ISDA (Indonesian Sustainable Development Goals Award) diadakan, tahun 2020 ini program Rumah Belajar JICT bisa jadi akan memenanginya lagi.

Apa sih sesungguhnya program Rumah Belajar (Rumbel) itu? Menurut Sani Arafat dan Zainal Abidin dari Yayasan Jala Samudera Mandiri (JSM) yang merupakan mitra pelaksana program CSR JICT, fokus utama program Rumbel adalah memberi akses yang mudah bagi anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak sebagai hak mereka. Sani Arafat menambahkan, ada banyak anak Indonesia yang karena berbagai faktor, kehilangan hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Nah, Rumah Belajar JICT memberi ruang yang luas bagi mereka yang putus sekolah untuk belajar di Rumbel. Rumah Belajar bahkan menyelenggarakan program kejar paket agar anak-anak didik Rumbel JICT juga memiliki ijazah kesetaraan.

Sementara itu Zainal Abidin menuturkan filosofi dibalik istilah “Rumah Belajar” menurutnya; Rumah mengacu pada konsep “home” dalam bahasa Inggris bukan “house”. Home lebih memiliki konotasi sebagai rumah tinggal yang memiliki ikatan, kedekatan, norma dan kasih-sayang yang tulus. Pemilihan kata ini sebagai antitesis dari konsep sekolah yang serba formal, hirarkis, dan prosedural.

Baca juga:  Siapakah Sarah Al Amiri Ilmuwan 33 Tahun Yang Memimpin Misi Luar Angkasa Harapan UEA

Sehingga lanjutnya; Rumah Belajar diharapkan menjadi rumah kedua bagi mereka yang gagal beradaptasi dengan sistem sekolah karena berbagai faktor. Rumah Belajar memang menjadi tempat menimba ilmu sekaligus membangun persaudaraan dalam semangat kekeluargaan. Suasananya informal bukan relasi belajar-mengajar tetapi lebih menjadi tempat saling asah, asih, dan asuh untuk menuju pengembangan diri.

Rumah Belajar JICT Kabar Gembira Bagi Yang Putus Sekolah
Ruang Komputer – Rumah Belajar JICT

Jumlah Rumah Belajar dan Kegiatan.

Karena program ini dibiayai sepenuhnya oleh program CSR JICT, Rumbel memiliki fasilitas yang sangat baik untuk ukuran sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Komputer dengan akses internet yang sangat bagus menjadi fasilitas penunjang belajar yang sangat menentukan. Anak-anak yang bergabung di Rumbel bebas menggunakannya untuk kepentingan belajar.

Selain itu ada juga menu belajar pilihan sesuai minat dan bakat masing-masing. Ada kursus olah gambar berbasis program photoshop, Bahasa Inggris yang menekankan praktik dan percakapan, ada juga kursus reparasi komputer, dan ketrampilan sablon. Semua program diselenggarakan tanpa bayar alias gratis!

Program pembinaan di Rumbel selain kejar paket, disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar. Kalau kejar paket mengikuti prosedur kementerian pendidikan. Saat ini Rumah Belajar JICT telah berdiri di tiga kecamatan yakni; Kecamatan Koja, Cilincing dan Tanjung Priok.

Karena animo yang tinggi, setiap Rumah Belajar kemudian membuka kelas jauh untuk menampung minat anak-anak putus sekolah yang ternyata jumlahnya sangat banyak. Dari tiap-tiap Rumbel di tiga kecamatan tersebut masing-masing membuka 5 kelas jauh. Sehingga total ada 18 kelas Rumah Belajar yang saat ini dikelola oleh Yayasan Jala Samudera Mandiri dan dibiayai oleh program CSR JICT.

Semenjak diselenggarakan pada tahun 2007, terdata ada 7000 lebih alumni program Rumah Belajar. Beberapa alumninya bahkan telah ada yang bekerja mandiri berbekal ketrampilan yang diberikan oleh Rumah Belajar JICT. Ada yang melanjutkan pendidikan, ada pula yang bekerja di berbagai perusahaan swasta di Jakarta.

Baca juga:  Ayam Bakar Mas Sabar Tempat Nongkrong Asyik Bagi Aktivis Dakwah Di Sekitar Setu Bekasi

Dari testimoni alumninya, salah satunya Fajar Okta yang sebelum gabung dengan Rumbel Cilincing pernah mengenyam pendidikan formal di sebuah SMP di Bekasi, aspek yang paling ia senangi dan ia kenang selama belajar di Rumbel adalah hubungan yang akrab dan penuh kekeluargaan antara sesama warga belajar. Bahkan nyaris tak ada jarak antara Tutor/guru dan anak-anak yang belajar, suasana yang akrab dan cair.

Hal lain yang ia nilai menjadi keunggulan Rumbel di bandingkan sekolah yang pernah ia alami, model belajar bahasa inggris dengan praktik langsung. Fajar merasa terjadi peningkatan yang cepat dalam kemampuan bahasa inggrisnya ketimbang waktu sekolah di SMP.

“Di Rumbel memang cara belajarnya santai dan tidak formal, tapi sangat menghargai waktu, sehingga belajar lebih tanpa beban dan mudah memahaminya” demikian Fajar mengakhiri kesannya tentang Rumbel yang telah menjadi rumah keduanya.

Ternyata selain di berikan ketrampilan, anak-anak yang belajar di Rumbel juga dibekali dengan pelatihan kewirausahaan. Latihan kewirau-usahaan ini diselenggarakan dengan mengundang praktisi dari luar Rumbel. Tujuannya tentu saja untuk melengkapi skill yang telah dimiliki siswa, sekaligus memberi arah pilihan setelah mereka selesai mengikuti program belajar di Rumbel. Apakah mau bekerja, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau mau usaha mandiri.

Adalah Arifin Efendi, salah satu profil alumni Rumbel JICT yang berhasil mengembangkan usaha mandiri setelah mampu menggondol ijazah penyetaraan tingkat SMA. Berbekal ketrampilan sablon yang ia timba di Rumbel JICT, ia kini mantap terjun bisnis sablon.

Sani Arafat, Direktur Jala Samudera Mandiri menyatakan bahwa program Rumbel sebenarnya tak membatasi alumninya mau berwira-usaha, kuliah, atau bekerja. “Fokus kami hanya memberikan hak belajar dan ketrampilan pada anak-anak putus sekolah tersebut. Selanjutnya terserah pada mereka masing-masing”.

Dengan berpegang pada jargon: Pendidikan adalah cara terbaik untuk memperbaiki kualitas hidup manusia” JSM akan terus berkomitmen menyelamatkan anak-anak Indonesia agar tak karam kehidupannya karena putus sekolah.

Sukses selalu JSM dan JICT!