Buya Hamka dengan mudah dan enteng meletakkan jabatan sebagai pejabat tinggi agama yang disandangnya, ketika Presiden Soekarno ketika itu mengultimatumnya untuk menjadi Pegawai Negeri atau tetap menjadi aktivis politik Partai Masyumi.

Abuya Hamka Ulama Autodidak Yang Cinta Ilmu
Foto: Abdul Malik Karim Amrullah

Bagi kita kalangan aktivis dakwah dan pendidik, membaca Hamka setidaknya harus menumbuhkan dua komitmen dasar yang penting kita jiwai yakni sikap cinta ilmu dan semangat untuk menebarkan seluas mungkin ilmu yang telah di dapat itu dengan berbagai media penyampaian. Lihatlah Hamka, ia terus menimba ilmu. Tidak cukup dengan belajar secara formal, ia pun banyak membaca, masih tidak cukup juga, ia pun bertanya kepada para cerdik-pandai.

Sosok kita kali ini adalah manusia besar dengan banyak jejak. Kita bisa mengenal beliau lewat jejak-jejaknya itu. Dari jejak sastera yang ditinggalkannya, mungkin kita akan menilai bahwa beliau adalah sosok yang melo-dramatis, membaca karyanya di bidang sastera seakan mengajak kita untuk menguras air mata dan mengakrabi kesedihan.

Namun dibalik karya-karya melo-dramatisnya itu, kita juga akan melihat pendirian seteguh karang jika kita cermati dari jejak politiknya. Buya Hamka dengan mudah dan enteng meletakkan jabatan sebagai pejabat tinggi agama yang disandangnya, ketika Presiden Soekarno ketika itu mengultimatumnya untuk menjadi Pegawai Negeri atau tetap menjadi aktivis politik Partai Masyumi.

Demikian juga ketika Ia menduduki jabatan terhormat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia pada masa Orde Baru, beliau tidak segan-segan untuk meletakkan jabatan itu pada tahun 1981, ketika peran ke-ulamaan ia mainkan dengan baik dalam melindungi umat dari praktik beragama yang campur aduk. MUI yang dipimpinnya ketika itu mengeluarkan fatwa tentang keharaman mengikuti perayaan Natal bersama bagi umat Islam.

Pasca keluarnya fatwa, Hamka mendapatkan tekanan penguasa untuk mencabut fatwa tersebut. Tapi Hamka lebih memilih mundur dari jabatannya sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia daripada mengubah apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Pada jejak yang lain kita dapati Hamka adalah sosok wartawan atau jurnalis yang sangat berbakat. Bukan sekedar piawai merangkai kata dalam bentuk tulisan, Hamka juga jatuh bangun dan pernah berjaya dengan menahkodai berbagai majalah yang terkenal pada masanya. Majalah terakhir yang kemudian identik dengan namanya adalah Majalah Panji Masyarakat.

Secara akademis, Hamka bukanlah jebolan Universitas atau sekolah tinggi manapun. Ia murni seorang otodidakis dalam berbagai bidang kajian, seperti Filsafat, Sejarah, Agama, Sosiologi dan Politik. Namun karya dan pemikirannya mengundang penghormatan dari dunia akademis baik nasional maupun internasional. Hamka pernah mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir pada tahun 1958. Pada tahun 1974, kembali beliau mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa, kali ini dari Universitas Kebangsaan, Malaysia.

Baca juga:  Kyai Haji Ahmad Dahlan Bukan Sekedar Panitia Lelang

Karya akademisnya yang sangat monumental, yakni tafsir Al-Azhar dan berbagai buku yang lain baik ilmiah maupun sastera menempatkan sosok Hamka sebagai ilmuwan yang tidak diragukan lagi kebesarannya baik secara nasional maupun internasional. Hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia juga tidak luput dari peran-perannya. Bahkan Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Dato’ Seri Utama Dr Rais Yatim menyebut Hamka sebagai perekat kebudayaan Melayu di Indonesia dan Malaysia.

Anak Tokoh Pembaharu

Hamka sesungguhnya akronim dari Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah. Abdul Malik adalah nama yang disandang Hamka semenjak kecil, sementara Karim Amrullah adalah nama dari Ayah beliau. Karim Amrullah atau lengkapnya Syekh Abdul Karim bin Amrullah adalah seorang tokoh pembaharu di tanah Minang.

Ide-ide pembaharuan yang dibawa oleh Karim Amrullah sesungguhnya adalah gagasan pembaharuan yang saat itu sedang berkembang di kawasan Saudi Arabia. Pada tahun 1906, Ayah Hamka ini pulang dari tanah suci Makkah, selama beberapa tahun bermukim di tanah suci, ternyata Karim Amrullah tidak hanya sibuk beribadah, beliau juga menimba pengetahuan agama seluas-luasnya. Persentuhannya dengan para ulama Makkah yang nota benenya adalah pusat pemikiran Islam ternyata sangat membekas dan mempengaruhi pemikiran Karim Amrullah.

Ketika kembali ke tanah Minangkabau dan menjadi tokoh agama di sana, maka gagasan-gagasan pembaharuan yang diterimanya selama di tanah suci ia sebarkan kepada masyarakat luas. Karim Amrullah yang juga dikenal dengan sebutan Haji Rasul itu kemudian menjadi ikon pembaharu di tanah Minang.

Dengan demikian pemikiran Hamka sejak muda telah mendapatkan pengaruh pembaharuan dari Ayahnya. Tradisi ke-ilmuan yang kritis nampaknya juga diwarisi Hamka dari sikap dan pendidikan yang diberikan oleh Haji Rasul kepadanya selama Hamka masih anak-anak.

Berpikir Terbuka

Gemblengan Sang ayah dan bekal kemahiran berbahasa arab yang dipelajari selama belajar di sekolah yang juga didirikan oleh Ayahnya, yakni Sumatera Thawalib, didukung minat baca dan kehausan akan ilmu yang tinggi membuat Hamka banyak melahab berbagai ilmu dari kitab-kitab berbahasa arab. Belum cukup dengan itu, Hamka pun rajin belajar kepada para tokoh pada masa itu, baik di Masjid, surau maupun di rumah Sang tokoh. Inilah yang membuat khazanah pemikiran Hamka menjulang tinggi, melampaui pemuda-pemuda lain seusia dirinya.

Baca juga:  Seorang Sarjana Untuk Prajurit: 'Izz ad-Din al-Qassam

Dengan ilmu yang luas itu, sosok Hamka menjadi pribadi yang kental dengan celupan nilai-nilai agama namun tetap memiliki kelenturan tinggi dalam berhubungan dengan orang lain, baik yang sekeyakinan dengan dirinya maupun yang berbeda. Hamka terkenal sebagai sosok yang berpikir terbuka dan mampu menempatkan setiap perbedaan secara proporsional.

Ia kokoh memegang prinsip Islam namun penuh penghormatan terhadap keyakinan lain. Dalam urusan-urusan kebangsaan, Hamka tanpa ragu bahkan bahu-membahu dengan tokoh dari agama yang berbeda semacam Kardinal Justinus Darmoyuwono untuk menyehatkan kehidupan berbangsa dan bernegara, mereka berdua menjadi tokoh yang memulai bersikap kritis kepada Presiden Soeharto, ketika Sang Presiden menunjukkan sikap otoriter.

Dalam perilaku Ibadah dan sikap keagamaan, Hamka yang tokoh Muhammdiyah itu ternyata juga sangat di cintai oleh kelompok lain, hal ini terjadi karena Hamka berpikir terbuka dan dapat menempatkan setiap perbedaan. Ia bukan tokoh yang suka mengusung golonganisme, sebaliknya Hamka justru lebih tertarik untuk melihat masalah dan agenda-agenda kebangsaan-keumatan secara makro.

Bagi kita kalangan aktivis dakwah dan pendidik, membaca Hamka setidaknya harus menumbuhkan dua komitmen dasar yang penting kita jiwai yakni sikap cinta ilmu dan semangat untuk menebarkan seluas mungkin ilmu yang telah di dapat itu dengan berbagai media penyampaian. Lihatlah Hamka, ia terus menimba ilmu. Tidak cukup dengan belajar secara formal, ia pun banyak membaca, masih tidak cukup juga, ia pun bertanya kepada para cerdik-pandai.

Dan lihat pula bagaimana cara Hamka menyampaikan ilmu. Ia mengajarkannya di kelas-kelas, tidak puas dengan itu ia perluas hingga ke masjid dan surau-surau. Masih terasa kurang luas pula sebaran ilmu itu, ia pun menulis melalui majalah dan buku-buku, buku ilmiah masih terasa terbatas juga karena tidak semua orang suka bacaan serius, Hamka menulis novel, puisi dan syair-syair. Hamka adalah pendidik dan pembelajar sejati ia hidup untuk ilmu.