Aktivis Islam angkatan 90-an umumnya akrab dengan pemikiran dan karya Mas Kuntowijoyo. Beliau adalah sejarawan dan Guru Besar Universitas Gajah Mada yang pisau analisanya terkenal tajam dan kritis dalam membedah masalah-masalah keumatan. Namun beliau juga piawai memotret realitas hidup di sekelilingnya melalui puisi, cerpen, dan novel. Intelektual muslim yang multi-dimensional.

Dr Kuntowijoyo
Dr. Kuntowijoyo

Ada banyak keluhan masyarakat tentang output pendidikan tinggi kita dalam satu dekade terakhir ini, dimana para sarjana yang lulus S1 umumnya dinilai berwawasan sempit, hanya mengerti pelajaran dari jurusan yang diambilnya. Itu pun kerap dinilai masih setengah-matang, teks terpahami, namun konteks dan substansinya sering tidak terselami dengan utuh. Sehingga ketika mereka memasuki dunia kerja atau bermasyarakat, ada sejumlah kecanggungan yang muncul. Tak jarang kalangan industri harus mengeluarkan kocek lebih banyak untuk mengasah ulang produk pendidikan tinggi kita itu agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

Apakah penjurusan dalam pendidikan memang dimaksudkan untuk menjadikan seseorang hanya mengerti disiplin ilmu yang digelutinya? Dan membuta-tuli dengan hal-hal lain yang dianggap bukan concern dari bidang ilmu yang menjadi fokusnya?

Sosok Dr. Kuntowijoyo adalah gambaran ideal sekaligus jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Disiplin ilmu yang digelutinya dengan serius membawa Kuntowijoyo pada tingkat kepakaran yang tinggi, dengan capaian akademisnya itu Kuntowijoyo tidak terjebak dalam menara gading, justru kemudian ia mampu berkonstribusi luas pada berbagai persoalan kehidupan berbangsa & bernegara dalam perspektif disiplin ilmu yang digelutinya. Dengan menggunakan pisau analisa dan pendekatan disiplin ilmu sejarah, Kuntowijoyo membedah ragam persoalan bangsa, dari isu keagamaan, pembangunan masyarakat, hingga penguatan jati-diri bangsa dan pendidikan.

Tidak cukup dengan itu, Kuntowijoyo pun tanpa canggung mampu tampil sebagai praktisi dalam ranah kebudayaan dan sosial-keagamaan. Kuntowijoyo tercatat namanya di berbagai organisasi-sosial baik di tingkat pusat maupun di daerah.

Di bidang kebudayaan dan sastera, ketika intelektual lain sekaliber dirinya merasa malu menyimpan novel di perpustakaan pribadinya, maka Kuntowijoyo justru produktif menulis novel dan cerita-pendek. Ia pun menjadi praktisi kebudayaan dan kesusasteraan. Luar biasanya, itu semua dilakukannya dengan sangat serius, sehingga kapasitas sasterawan dan budayawan yang di sandangnya bukanlah sekedar klaim tanpa bukti.

Ia membuktikan produktifitasnya sebagai pekerja sastera dan budaya dengan paling tidak menghasilkan 18 karya dalam bidang: cerita pendek, puisi, naskah drama dan novel. Dengan kreatifitasnya itu Kuntowijoyo mampu menyabet beberapa penghargaan bergengsi, baik di tingkat lokal Yogyakarta, penghargaan Nasional, dan beberapa penghargaan dari lembaga internasional.

Kelahiran & Pendidikan.

Kuntowijoyo lahir di kota revolusi dan sekaligus kota pelajar yakni Yogyakarta, tepatnya di Sanden, Bantul pada tanggal 18 September 1943, Putra pasangan H. Abdul Wahid Sosroatmojo dan Hj. Warasti. Pada masa balitanya, Kuntowijoyo diapit oleh beberapa momen sejarah yang penting, yakni tahun 1945 adalah proklamasi kemerdekaan RI dan pada tahun 1947 terjadi agresi militer belanda. Heroisme masyarakat Yogyakarta pada masa itu tentu berpengaruh besar pada perkembangan jiwa Kuntowijoyo.

Baca juga:  Seorang Sarjana Untuk Prajurit: 'Izz ad-Din al-Qassam

Pendidikan dasar dan menengah di rampungkan oleh Kuntowijoyo di daerah Klaten. Bukan sekedar pendidikan formal saja yang ia reguk di sini, tetapi juga pendidikan kebudayaan secara informal. Ia bersentuhan secara intens dengan dua budaya luhur Jawa sekaligus, yakni tradisi Yogyakarta dan Surakarta.

Secara keagamaan Kuntowijoyo juga menikmati persinggungan tradisi keagamaan Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sekaligus, dimana ketika itu dinamika hubungan kedua Ormas besar tersebut sering menimbulkan ketegangan-ketegangan yang kreatif di tengah masyarakat. Itu semua berpengaruh besar dalam membentuk pola pikir Kuntowijoyo yang ketika itu rajin mengikuti kegiatan keislaman di langgar-langgar selepas jam sekolah formalnya. Sosok Kuntowijoyo pun kemudian dikenal rasional sekaligus tidak kehilangan kearifan lokal sebagai pengaruh dari dinamika itu.

Pada saat duduk di sekolah menengah ini, Kuntowijoyo juga sudah mulai menikmati karya-karya sastera dari dalam maupun luar negeri. Pada masa ini pula hobinya untuk menulis sudah mulai tumbuh. Persentuhannya dengan karya-karya sastera semakin intens ketika ia memasuki jenjang pendidikan menengah atas di Kota Solo hingga ia menamatkannya pada tahun 1962.

Karir kependidikannya berlangsung mulus, Kuntowijoyo berhasil memasuki Perguruan tinggi ternama yakni Universitas Gajah Mada, ia mengambil jurusan Sejarah. Jiwa aktivis, akademisi, dan kesasterawanannya terasah tajam pada fase ini, karena lingkungan Yogyakarta ketika itu memang kuat dinamika kebudayaannya. Tulisan Kuntowijoyo pun mulai banyak dipublikasikan.

Kuntowijoyo berhasil menggondol gelar MA pada tahun 1974 dari Universitas Conectikut, Amerika Serikat. Sementara gelar PhD ilmu Sejarah ia sandang pada tahun 1980 dari Universitas Columbia dengan desertasi berjudul: Social Change In an Agrarian Society: Madura (1850-1940).

Kuntowijoyo bukan sekedar seorang Dosen di Universitas Gajah Mada dengan menjadikan mengajar sebagai satu-satunya kesibukan dan jalur pengabdian. Lebih dari itu ia dikenal sebagai sosok cendikiawan muslim Indonesia yang pemikirannya diakui secara nasional. Salah satu karya akademisnya yang monumental adalah buku dengan Judul: Paradigma Islam, hingga hari ini terus mengalami cetak ulang. Dari sini kita dapat mengukur bobot intelektualitas sosok Kuntowijoyo yang masih terus menginspirasi kalangan intelektual di tanah air.

Salah satu gagasan penting yang terangkum dalam buku tersebut adalah pemikirannya tentang Ilmu Sosial Profetik. Ada tiga pijakan dasar yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo untuk membangun Ilmu Sosial Profetik yakni; humanisasi, liberasi, dan transendensi. Rasanya gagasan ini masih akan terasa aktual dan menarik untuk terus dibincangkan sampai kapanpun.

Baca juga:  Mandat Penuh Kepada Mr. Sjafruddin Untuk Mengambil Alih Fungsi Pemerintahan

Satu hal penting yang harus kita teladani dari sosok intelektual besar ini adalah wawasan yang luas serta keterlibatannya dalam berbagai arena kehidupan dan pemikiran. Ia tidak terpasung oleh disiplin ilmunya, tetapi justru memberi visi alternatif sesuai perspektif disiplin keilmuaan-nya untuk berkontribusi secara lebih aktif dan luas.

Karya dan Penghargaan.

Sebagai sosok multi-dimensional, Kuntowijoyo berkarya tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai intelektual dan sejarawan. Jejak karya sasteranya pun tergolong gemilang. Berikut ini adalah klasifikasi karya-karya Kuntowijoyo.

Dalam karya sastera dan budaya pun Kuntowijoyo tidak hanya berkarya di satu bidang, tetapi sekaligus beberapa bidang lain, sebagai berikut:

Buku Novel.

  • Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966)
  • Khutbah di atas bukit (1976)
  • Pasar (1994)
  • Impian Amerika (1998)
  • Mantera Penjinak Ular (2000)

Cerpen.

  • Dilarang Mencintai bunga-bunga (1992)
  • Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995)
  • Pistol Perdamaian (1996)
  • Anjing-anjing Menyerbu Kuburan (1997)

Buku Kumpulan Puisi.

  • Suluk Awang-Uwung
  • Isyarat
  • Daun Makrifat, Makrifat Daun

Naskah Drama.

  • Rumput-rumput Danau Bento
  • Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas
  • Topeng Kayu

Karya Ilmiah Kuntowijoyo antara lain.

  • Pengantar Ilmu Sejarah
  • Metodologi Sejarah
  • Radikalisasi Petani
  • Paradigma Islam: interpretasi untuk aksi
  • Demokrasi & Budaya Birokrasi
  • Identitas politik umat Islam
  • Raja, Priyayi, dan Kawula

Selama masa hidupnya, Kuntowijoyo banyak memperoleh penghargaan dalam berbagai lapangan kehidupan. Antara lain:

  • Penghargaan dari Asean Award on culture (1977)
  • Penghargaan SEA Write Award dari kerajaan Thailand (1999)
  • Satya Lencana Kebudayaan Republik Indonesia (1997)
  • Penghargaan sastera dari pusat bahasa (2005)
  • Penghargaan Kebudayaan dari ICMI (1995)
  • Meraih beberapa Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas
  • Mizan Award dari penerbit Mizan (1998)

Sosok akademisi seperti Kuntowijoyo ini sekarang makin langka. Pemikiran dan kritiknya tajam tetapi tak pernah provokatif dan selalu menawarkan alternatif. Jejak karya Kuntowijoyo begitu menjulang tinggi, namun sikap rendah hati dan kearifannya kerap membuat sosok besarnya sulit dikenali generasi masa kini yang selalu terperangah oleh pamrih dan artifisialisme. Hanya mereka yang rindu kearifan yang masih mau mengais pemikiran dan karyanya.