Banyak di antara kita yang sering mendapatkan tugas menjadi panitia lelang amal-sedekah untuk pembangunan masjid atau santunan. Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah ternyata pernah melelang perabot rumah tangganya sendiri. Untuk apa?

Kyai Haji Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan – Wikipedia

Kampung kauman pada suatu siang di tahun 1921. Saat sebagian besar warganya tengah sibuk dalam aktifitas niaga dan membatik. Terlihat dinamis dalam hening dan keramahan yang khas, tak nampak terburu-buru namun konsisten penuntaskaan pekerjaannya masing-masing. Tiba-tiba dinamika itu dipecahkan oleh bunyi kentongan bertalu-talu. Dari nadanya masyarakat Kauman tahu, bahwa kentongan itu adalah panggilan untuk berkumpul.

Sembari berpikir siapa yang memukul kentongan, warga Kampung Kauman yang harus mewakili keluarganya segera bergegas keluar rumah. Ternyata bunyi kentongan berasal dari arah Langgar Kidul, tak jauh dari rumah Kyai yang mereka cintai, siapa lagi kalau bukan KH. Ahmad Dahlan.

Tak urung penduduk bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi sehingga Kyai memanggil mereka berkumpul di halaman rumahnya. Selang beberapa saat, para pimpinan rumah tangga atau yang mewakili telah kumpul semua. Mereka terkejut, di teras rumah Sang Kyai bertumpuk aneka barang rumah tangga dan berbagai perabotan. Ada lemari jati, Meja kursi, bahkan ada pula jam tegak dan dipan jati, dan lain-lain.

Apakah Kyai Dahlan mau pindah rumah? Ada banyak dugaan yang bersliweran di benak masyarakat Kampung Kauman yang nota benenya adalah murid pengajian Kyai Ahmad Dahlan. Sang Kyai telah pula berdiri menunggu kedatangan mereka.

Setelah menyampaikan salam Kyai Ahmad Dahlan segera menuturkan kepentingannya mengumpulkan masyarakat Kauman siang itu. Beliau menyampaikan beberapa hal:

Pertama, sesungguhnya Muhammadiyah saat ini tak lagi punya uang kas. Dalam arti kata, uang kas Muhammadiyah telah habis untuk berbagai keperluan organisasi.

Kedua, uang kas telah habis tapi para guru, karyawan dan biaya pendidikan yang lain belum terbayar. Masih dibutuhkan dana sebesar 500 gulden untuk menggaji guru dan karyawan sekolah Muhammadiayah.

Ketiga, Kyai Ahmad Dahlan akan melelang barang-barang yang ada di rumah beliau; dari baju, jas, hingga perabotan rumah tangga yang masih sangat layak pakai. Maka beliau mengundang warga Kampung Kauman untuk membeli barang tersebut. Hasil penjualannya akan dipakai untuk membayar honor para guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah.

Baca juga:  Sejarah Kelahiran Pancasila

Sontak pernyataan Kyai Ahmad Dahlan mengagetkan semua yang hadir. Para murid beliau yang terhimpun dalam pengajian Thaharatul Qulub terharu dengan kesungguhan dan pengorbanan guru mereka dalam memajukan dakwah dan pendidikan. Di jamaah pengajian Thaharatul Qulub banyak saudagar batik yang kaya raya, mereka tentu telah secara rutin menjadi donatur utama kegiatan Muhammadiyah. Dan Kyai nampaknya tak ingin membebani mereka lagi.

Sejenak para hadirin hanya saling tatap, ada kecamuk dalam hati dan pikiran mereka, ada kekaguman pada ketulusan dan rasa tidak enak hati di sisi yang lain. Para saudagar jamaah Thaharatul Qulub saling berbisik di antara mereka seperti berembuk singkat. 500 gulden bisa mereka tangani tanpa harus mengorbankan barang-barang pribadi guru mereka.

Tapi pertemuan ini adalah pertemuan lelang! Tak mungkin mereka mengubah niat dan pengorbanan Kyai Ahmad Dahlan dengan beradu opini di tengah halaman rumah yang ramai dengan kehadiran para warga Kampung Kauman. Entah apa yang kemudian dibincangkan oleh para jamaah Thaharatul Qulub dalam bisik-bisik tersebut.

Pastinya, mereka kemudian seperti berlomba untuk membeli barang-barang yang dilelang oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Ada yang membeli lemari, ada yang mengambil jas, ada yang membayari jam besar dan seterusnya. Hingga semua barang Sang Kyai habis terjual.

Lelang pun di tutup. Dari hasil lelang semua barang tersebut terkumpul uang senilai 4000 gulden. Padahal kebutuhan Kyai Ahmad Dahlan hanya 500 gulden.

Selanjutnya uang yang terkumpul diserahkan kepada Kyai Haji Ahmad Dahlan. Para saudagar dan jamaah pada umumnya segera pamit undur diri. Giliran Sang Kyai yang dibikin terperanjat. Para peserta lelang pulang begitu saja tanpa menyentuh barang yang seharusnya telah menjadi milik mereka secara sah.

Baca juga:  Buya Hamka Ulama Autodidak Yang Cinta Ilmu

Kyai sederhana dan santun ini pun berseru kepada para peserta lelang: “Saudara-saudara, monggo barang yang sudah panjenengan semua beli agar dibawa pulang, atau nanti saya antarkan?” bahkan beliau bersedia mengantarkan barang tersebut.

Para jamaah Thaharatul Qulub serentak berpaling, salah satu diantara mereka memberikan jawaban:

“Tidak usah Kyai. Barang-barang itu biar tetap di sini saja, Semua kami serahkan kembali kepada Kyai”

Kyai Ahmad Dahlan beranjak mengikuti para jamaahnya, sembari berkata: “Bagaimana dengan uang yang terkumpul ini?”

“Ya, untuk Muhammadiyah Kyai” jawab salah satu jamaah.

“Begini saudara-saudara, uang yang terkumpul lebih dari 4000 gulden, sementara Muhammadiyah hanya butuh 500 gulden, sisanya bagaimana?”

“Sisanya untuk kas Muhammadiyah Kyai” salah satu jamaah kembali menimpali pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan.

Lelang itu berakhir. Tidak ada barang Kyai yang pindah tempat. Semuanya kembali menjadi milik Kyai Dahlan. Masalah Muhammadiyah selesai dan Kas Muhammadiyah bertambah lebih dari 3500 gulden!

Kyai Dahlan mewariskan keteladanan luar biasa, beliau memang sosok Kyai yang terkenal dengan budaya bertindak, tak sekedar berwacana. Jiwa inilah yang membuat Muhammadiyah memiliki capaian luar biasa dengan amal usahanya di bidang pendidikan dan sosial.

Kita yang sering menjadi “Panitia Lelang Sedekah” jadi malu hati. Bermodal proposal, poster, flyer, meme, dll yang disebar di media sosial, sesungguhnya kita hanya berkonstribusi gagasan. Sudah bagus, tapi belum cukup jika diukur dengan keteladanan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Beliau tak sekedar menjadi panitia lelang! Tapi beliau pun memberikan barang yang akan dilelang itu!

Artikel ini dinarasikan kembali dari penuturan Drs. Sukriyanto AR., M.Hum. dalam majalah Suara Muhammadiyah, No. 13/98/1-15 Juni 2013