Pada mulanya saya bukanlah seorang yang komitmen (dengan syari'at). Saya dulu seorang wanita liar dan pernah berkali-kali pacaran dengan lelaki. Saat itu saya dalam keadaan putus asa dengan kehidupan saya. Jauh dari keluarga, dan saya sendiri jauh dari Allah tidak pernah beribadah, akhirnya saya terjatuh ke dalam perbuatan zina.

Haruskah Aku Berterus Terang Tentang Dosaku Atau Aku Tidak Usah Menikah Untuk Selamanya?
Photo by Ifrah Akhter on Unsplash

Oleh: Syeikh DR. ShAlah As-Shawy

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sampaikan terima kasih sebelumnya atas fatwa-fatwa Anda yang sangat berharga, dan saya sangat berharap agar saya bisa lebih tenang dari perasaan yang sangat menyakitkan ini.

Pada mulanya saya bukanlah seorang yang komitmen (dengan syari’at). Saya dulu seorang wanita liar dan pernah berkali-kali pacaran dengan lelaki. Saat itu saya dalam keadaan putus asa dengan kehidupan saya. Jauh dari keluarga, dan saya sendiri jauh dari Allah tidak pernah beribadah, akhirnya saya terjatuh ke dalam perbuatan zina.

Setelah kejadian itu, saya merasa telah berbuat maksiat yang besar, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengulanginya kembali. Tapi pacar saya mengancam tidak akan menikahi saya bila saya tidak mau mengulangi perbuatan zina dengannya. Selang beberapa waktu kemudian ia datang untuk melamar saya, maka sayapun menyetujui dengan harapan saya dan dia bisa bertobat. Saya berkali-kali memintanya agar mau bertobat tetapi dia menolak, hingga akhirnya saya putuskan untuk mengakiri hubungan dengannya dan saya membatalkan pinangannya.

Alhamdulillah setelah kejadian itu saya mulai melaksanakan shalat dan bisa menjauh dari pacar saya sama sekali. Saya juga memakai baju yang sesuai syari’at, belajar agama, menghafal Al-Qur’an serta mempelajari ilmu-ilmu syariah.

Ternyata mantan pacar saya masih berusaha meminang saya kembali sedang ia masih belum mau bertobat karena ia merasa bahwa tindakan dia dan saya saat itu tidak salah. Tapi saya tetap menolaknya dan saya pun tetap melanjutkan jalan saya, wal hamdulillah.

Dan sekarang, datanglah seorang pemuda yang sangat komitmen dengan agamanya, akhlaknya bagus dan alhamdulillah ia akan menikahi saya.

Apa yang harus saya perbuat, saya bukan lagi gadis, saya pun tak bisa berterus terang kepadanya karena pasti ia akan meninggalkan saya, saya tidak mau mengungkit aib saya setelah Allah menutupnya wal hamdulillah.

Perlu diketahui bahwa saya juga tidak mau melakukan operasi selaput dara, karena aurat saya pasti akan terlihat dan saya menolak itu.

Lalu apa solusi buat saya, apakah saya tidak usah menikah selamanya, ataukah tetap menikah dan Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Menutup aib akan menutupi aib saya insya Allah…

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah wa ala aalihi wa shohbihi wa man waalah, amma ba’ad:

Sungguh siapa saja yang telah di beri musibah keburukan ini hendaklah ia menyembunyikannya karena Allah telah menyembunyikannya, baik pelakunya laki-laki atau perempuan, ia tidak wajib memberitahukannya kepada yang melamarnya, ia tidak boleh merusak tutupan Allah atasnya, yang melamarpun tidak boleh mempersulit si wanita yang dilamar dengan mengorek masa lalunya, selama sang pelamar merasa tenteram melihat calon istrinya dalam keadaan baik dan konsisten.

Bila sang pelamar membuat calon istrinya merasa sulit (karena mengorek masa lalunya) maka si wanita tidak wajib memberitahunya, dan ia boleh berkata-kata dengan kalimat atau ungkapan tauriyah (kalimat bermakna ganda) dengan harapan dapat menghindar dari keburukan. Dan tauriyah adalah ungkapan yang bisa difahami dengan makna tertentu oleh lawan bicara sedang pembicaranya tidak memaksudkan hal itu.

Jika si wanita berterus terang dengan kesalahannya, maka apabila si lelaki mengetahui akan kejujuran tobatnya maka ia harus menerima aib wanita itu dan tetap menutup aibnya, karena ada hadits shahih dari Nabi SAW tentang keutamaan menutup aib seorang muslim:

“Barang siapa menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”

HR. Bukhari

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang kisah Ma’iz RA.:

“Pelajaran yang dapat diambil dari kisahnya adalah hendaknya bagi siapa saja yang terjatuh dalam perbuatan seperti Ma’iz agar bertobat kepada Allah Ta’ala, dan hendaknya dia menutupi aib dirinya dan tidak memberitahukan hal itu kepada siapa-siapa, hal ini sejalan dengan apa yang diisyaratkan oleh Abu Bakar dan Umar terhadap Ma’iz. Dan barang siapa yang melihat aib orang lain maka hendaklah ia menyembunyikannya, tidak boleh mengobralnya dan menyampaikannya kepada seorang Imam (hakim) sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam kisah tersebut:

“Andai kamu menyembunyikannya dengan tobatmu niscaya akan lebih baik bagimu.” Karena inilah maka Imam Syafi’I menegaskan :

“Saya lebih senang atas orang yang telah melakukan dosa dan Allah telah menutup aibnya, agar ia menutup aib dirinya dan bertobat.”. Beliau menyandarkan pendapatnya pada kisah yang terjadi antara Ma’iz, Abu Bakar dan Umar.”

Adapun permasalahan tentang menutup kembali selaput dara (dengan operasi) bagi wanita akibat perzinahan, yang mana ia kemudian bertobat dan jujur dalam tobatnya, maka masalah tersebut termasuk yang diperbincangkan oleh para ahli fatwa, antara boleh dan tidak.

Yang membolehkan beralasan demi kemaslahatan dalam menutup kembali selaput yang robek, membantu si wanita yang telah bertobat itu untuk melanjutkan kembali kehidupan yang suci dan mulia.

Sedang yang melarangnya beralasan hal tersebut termasuk kebohongan dan penipuan, yang mana akan berakibat lebih fatal bila di kemudian hari suaminya mengetahui rahasianya.

Tidak diragukan lagi bahwa masalah ini adalah bagian dari kejadian-kejadian baru dalam dunia fikih kontemporer, dimana orang-orang mengetahuinya seiring kemajuan ilmu dan pengetahuan dalam bidang kedokteran dan teknologi, sedang kitab-kitab fikih belum pernah membahas hukumnya serta mempelajari hukumnya dalam kerangka timbangan maslahat dan madhorotnya, juga tentang bila salah satu sisi (maslahat atau madhorot) mengalahkan sisi lainnya.

Saya berpendapat agar semua sisi itu dipelajari dengan seksama, dan agar masalah ini disampaikan kepada seorang mufti (ahli dalam fatwa) dengan segala rincian keadaannya supaya dia dapat memberikan fatwa dengan bimbingan Allah SWT.

Dan wahai putriku, hendaklah engkau memperbanyak kebaikan dan amal soleh, karena sesungguhnya kebaikan itu akan melenyapkan keburukan, engkau telah melakukan perbuatan dosa dan kemungkaran yang besar! akan tetapi alhamdulillah engkau sudah kembali kepada Allah dengan bertobat, maka jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, dan saya memberikan kabar gembira kepadamu tentang tobat yang penuh berkah, bahwa Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits (2590):

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda: “Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia kecuali Dia akan menutup pula aibnya pada hari kiamat.”

Rasulullahpun menegaskan hal itu dalam hadits lain seraya bersumpah, dari Aisyah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Aku bersumpah terhadap tiga hal, Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang memiliki saham dalam Islam sama dengan orang yang tidak memiliki saham, saham itu yakni : Sholat, puasa dan zakat. Dan tidaklah Allah mengangkat seseorang menjadi pemimpin di dunia, kemudian Dia mengankat orang lain menjadi pemimpin di hari kiamat. Dan tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali kelak Allah akan menggumpulkannya bersama (di akhirat). Kalau boleh aku bersumpah terhadap yang keempat dan kuharap aku tidak berdosa dalam hal ini yaitu tidaklah seseorang menutupi aib orang lain kecuali Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”

Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no.1387.

Teruskanlah bertobat wahai putriku dan kerjakanlah amal soleh, perbanyaklah berendah diri kepada-NYA dalam kesendirianmu dan waktu-waktu sahur, bergembiralah dengan Rabb yang Maha Mulia, saya berharap agar Dia memperlihatkan kepadamu akan kasih sayang-NYA yang belum pernah engkau bayangkan sebelumnya, sungguh Dia Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.